Pasuruan – Di tengah haru yang menggantung di udara malam, langkah ratusan calon tamu Allah dilepas dengan doa dan harapan. Sebanyak 380 jamaah haji yang tergabung dalam Kloter 10/SUB resmi diberangkatkan menuju Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, pada Kamis malam (23/4/2026), mengawali perjalanan panjang menuju Tanah Suci.
Rombongan tersebut terdiri dari 273 jamaah asal Kota Pasuruan, 60 jamaah dari Kabupaten Pasuruan, 43 jamaah dari Kota Malang, serta empat petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Keberangkatan ini menjadi bagian dari rangkaian musim haji tahun 2026 yang melibatkan ribuan jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.
Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, hadir langsung dalam prosesi pelepasan. Ia menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental para jamaah mengingat ibadah haji menuntut stamina tinggi serta mobilitas yang padat selama di Tanah Suci.
“Ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Karena itu, saya berpesan kepada seluruh jamaah agar tetap menjaga kesehatan, pola makan, serta stamina selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci,” ujarnya.
Data panitia menunjukkan bahwa jamaah asal Kota Pasuruan berasal dari berbagai Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), dengan jumlah terbesar dari KBIHU As-Salam sebanyak 112 orang. Selain itu, terdapat pula jamaah dari KBIHU Makkah Madinah, Rosana, Al-Kautsar, dan Nurul Anwar yang turut memperkuat rombongan.
Keberangkatan tahun ini juga diwarnai perhatian khusus terhadap kelompok jamaah rentan. Tercatat ada 111 jamaah lanjut usia, 25 jamaah dengan risiko kesehatan tinggi, satu jamaah difabel, serta tiga jamaah pengguna kursi roda. Kondisi ini membuat pengawasan kesehatan menjadi prioritas sejak keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Arab Saudi.
“Ia menambahkan, jamaah diharapkan mengikuti arahan petugas pendamping agar pelaksanaan ibadah berjalan tertib dan aman. Pemerintah Kota Pasuruan berharap seluruh jamaah dapat kembali dalam keadaan sehat serta meraih predikat haji mabrur,” lanjutnya.
Salah satu jamaah, Yudi Lami, mengungkapkan rasa syukurnya setelah penantian panjang akhirnya terwujud.
“Alhamdulillah, ini momen yang sudah lama kami tunggu. Persiapan dilakukan sejak jauh hari, terutama menjaga kesehatan dan mengikuti manasik agar lebih siap saat menjalankan ibadah,” katanya.
Menurutnya, suasana pelepasan terasa emosional karena diiringi doa dan dukungan keluarga. Momen tersebut menjadi penguat semangat bagi para jamaah untuk menjalani perjalanan spiritual yang penuh makna.
Panitia juga mencatat rentang usia jamaah yang cukup beragam, dari yang termuda berusia 19 tahun hingga yang tertua mencapai 85 tahun. Variasi usia ini semakin menegaskan pentingnya kesiapan fisik dan pendampingan intensif selama proses ibadah berlangsung.
Pelepasan jamaah berlangsung khidmat dan penuh haru. Tangis dan pelukan keluarga mengiringi keberangkatan, menandai perjalanan yang bukan sekadar ibadah, tetapi juga puncak dari penantian panjang yang akhirnya menjadi kenyataan.
