Jember – Seperti pasar yang tak hanya menjajakan barang, tetapi juga harapan, Balai Desa Suco di Kecamatan Mumbulsari dipenuhi warga yang datang membawa aspirasi. Dalam kegiatan “Bunga Desaku” pada Selasa (7/4/2026), ratusan masyarakat berkumpul untuk bertemu langsung dengan Bupati Jember, Gus Fawait, dalam suasana yang hangat dan penuh interaksi. Momentum ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi pasca-Idul Fitri, tetapi juga ruang penyampaian berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil.
Kegiatan tersebut mempertemukan pelaku UMKM, pedagang keliling atau mlijo, serta kelompok tani dengan jajaran pemerintah daerah. Dalam forum itu, Bupati Jember menyampaikan sejumlah program prioritas, termasuk “Mlijo Cinta” yang ditujukan untuk mendukung usaha kecil agar lebih berkembang. Selain itu, pemerintah juga mensosialisasikan layanan kesehatan gratis bagi warga yang telah berjalan sejak [1 April 2025], sebagai bagian dari implementasi Universal Health Coverage (UHC) di Kabupaten Jember. Melalui kegiatan ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa informasi program dapat diterima langsung oleh masyarakat tanpa perantara.
“Karena masih suasana Idul Fitri, saya ucapkan mohon maaf lahir dan batin. Tujuan saya yang pertama adalah menyampaikan program-program pemerintah,” ujarnya di hadapan warga.
Dalam penjelasannya, Gus Fawait menyoroti pentingnya perhatian terhadap sektor usaha kecil yang selama ini dinilai belum mendapatkan dukungan maksimal. Program “Mlijo Cinta” dihadirkan sebagai bentuk intervensi nyata pemerintah daerah untuk membantu permodalan maupun keberlangsungan usaha para pedagang kecil. Ia berharap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal agar memberikan dampak ekonomi yang berkelanjutan bagi para pelaku usaha.
“Sudah bertahun-tahun para mlijo dan UMKM kurang diperhatikan. Untuk itu, kami beri bantuan melalui program Mlijo Cinta. Saya harap bantuan ini dijaga dengan baik,” tegasnya.
Selain sektor ekonomi, perhatian besar juga diberikan pada layanan kesehatan masyarakat. Dalam forum tersebut, Bupati menjelaskan bahwa warga Jember kini dapat mengakses layanan kesehatan secara gratis hanya dengan menunjukkan KTP. Program ini mencakup pemeriksaan kesehatan, layanan kehamilan, hingga proses persalinan di fasilitas kesehatan seperti puskesmas. Pemerintah daerah bahkan telah mengalokasikan anggaran besar guna memastikan keberlanjutan program tersebut.
“Bukan hanya orang sakit, ibu-ibu yang hamil juga bisa periksa gratis di puskesmas, bahkan melahirkan juga gratis. Kami siapkan anggaran sebesar Rp400 miliar untuk Universal Health Coverage (UHC),” jelasnya.
Ia juga mengajak para mlijo untuk menjadi agen informasi di tengah masyarakat. Menurutnya, pedagang keliling memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi karena berinteraksi langsung dengan warga setiap hari. Dengan cara ini, pemerintah berharap program berobat gratis dapat diketahui lebih luas dan dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.
“Saya minta tolong kepada para mlijo, saat menjajakan dagangan, sampaikan bahwa berobat gratis bagi warga Jember,” tambahnya.
Dalam sesi dialog, warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai kebutuhan dan harapan. Abdul Hobir, salah satu warga Mumbulsari, mengusulkan agar insentif tidak hanya diberikan kepada RT dan RW, tetapi juga kepada kelompok tani atau gapoktan yang memiliki peran penting dalam sektor pertanian. Ia juga berharap program pupuk organik dapat kembali diaktifkan untuk mendukung produktivitas petani.
Sementara itu, Faruk, warga Krajan Mumbulsari, mengangkat persoalan kebutuhan lahan pemakaman yang dinilai semakin mendesak. Ia juga mengusulkan adanya jaminan BPJS bagi masyarakat seperti yang diterima oleh perangkat RT/RW, serta pembangunan fasilitas pengolahan sampah untuk mengatasi persoalan lingkungan di wilayahnya. Aspirasi tersebut langsung ditanggapi oleh pemerintah sebagai bahan evaluasi dan perencanaan kebijakan ke depan.
Melalui kegiatan “Bunga Desaku”, Pemerintah Kabupaten Jember kembali menegaskan komitmennya dalam membangun komunikasi yang terbuka dan partisipatif. Program seperti “Mlijo Cinta” dan layanan kesehatan gratis diharapkan tidak hanya menjadi kebijakan di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga ke tingkat desa. (ADV).
