Jember – Seperti memutar arah angin kebijakan fiskal, Kabupaten Jember justru melesat dengan cara yang tak biasa: tanpa menaikkan pajak. Di saat banyak daerah mengandalkan peningkatan tarif, Jember memilih “meringankan beban” untuk mendorong partisipasi—dan hasilnya melampaui ekspektasi.
Sepanjang tahun anggaran 2025, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Jember menembus angka Rp1 triliun, meningkat lebih dari 36 persen. Capaian ini menjadi yang tertinggi di Jawa Timur sekaligus menempatkan Jember dalam lima besar dari total 38 kabupaten/kota. Keberhasilan ini diraih tanpa adanya kenaikan tarif pajak maupun retribusi daerah.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jember, Achmad Imam Fauzi, menjelaskan bahwa lonjakan tersebut didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak, bukan karena tekanan tarif.
“Yang naik bukan tarifnya, tetapi partisipasi dan aktivitas ekonominya. Di situlah kunci pertumbuhan PAD kita,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Pemerintah Kabupaten Jember sepanjang 2025 menerapkan sejumlah kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Di antaranya penyesuaian retribusi pasar menjadi lebih ringan, program parkir gratis pada momen tertentu, hingga pemberian pengurangan dan pembebasan pajak di periode strategis. Kebijakan tersebut memberi ruang bagi masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap produktif di tengah dinamika ekonomi.
Pendekatan ini terbukti efektif dalam memperluas basis penerimaan daerah. Ketika beban fiskal diturunkan, tingkat kepatuhan wajib pajak justru meningkat secara alami. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa strategi berbasis insentif mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan penerimaan daerah.
“Ini soal trust. Ketika masyarakat percaya, mereka akan lebih patuh dan mau terlibat dalam sistem,” tegas Fauzi.
Selain itu, sinergi lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) turut memperkuat pengelolaan PAD secara terintegrasi. Kolaborasi antar sektor membuat optimalisasi potensi daerah berjalan lebih efektif dibandingkan pendekatan sektoral sebelumnya.
“PAD adalah kerja bersama. Semua sektor punya peran,” tambahnya.
Sektor pariwisata menjadi salah satu kontributor utama dalam peningkatan PAD. Sepanjang 2025, sektor ini menyumbang sekitar Rp50,87 miliar dengan jumlah kunjungan wisatawan mencapai 1,8 juta orang, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh strategi harga yang lebih terjangkau, pembukaan akses transportasi baru, serta tumbuhnya sektor pendukung seperti kafe, restoran, dan desa wisata.
“Harga yang ramah mendorong kunjungan naik drastis. Efeknya langsung terasa pada ekonomi dan PAD,” jelasnya.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Jember juga melampaui rata-rata provinsi Jawa Timur, memperkuat bukti bahwa kebijakan insentif tidak hanya berdampak pada fiskal, tetapi juga menggerakkan ekonomi secara luas.
Meski beberapa program masih akan mencapai hasil optimal pada tahun berikutnya, arah kebijakan ini dinilai telah berada di jalur yang tepat. Jember kini tidak hanya mencatatkan capaian fiskal tinggi, tetapi juga memperkenalkan paradigma baru dalam pengelolaan keuangan daerah—berbasis kepercayaan, partisipasi, dan keberlanjutan. (ADV).
