Solok – Di saat takbir menggema membawa suasana suci, udara di Jorong Sopan Balai justru dipenuhi aroma yang mengusik. Alih-alih merayakan Lebaran dengan penuh kehangatan, warga Nagari Bukit Kandung harus bertahan dalam kepungan bau menyengat dari peternakan ayam yang berdiri tak jauh dari rumah mereka.
Keluhan warga mencuat pada Minggu (23/3/2026), ketika bau busuk dari kandang ayam petelur yang berjarak sekitar 50 meter dari permukiman semakin terasa menyengat, terutama saat siang hari. Tidak hanya bau, serangan lalat dalam jumlah besar juga menjadi persoalan serius karena masuk hingga ke dalam rumah, mengganggu aktivitas sehari-hari masyarakat.
“Baunya busuk dan sangat menyengat, apalagi siang hari. Lalat juga banyak masuk ke rumah, sampai ke dapur dan tempat makan,” ungkap Repi, salah seorang warga.
Menurutnya, kondisi tersebut bukanlah hal baru. Bau tidak sedap dan banyaknya lalat telah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada penanganan yang dirasakan efektif oleh warga. Situasi ini membuat suasana Lebaran yang biasanya identik dengan kebersamaan dan kenyamanan menjadi terganggu.
“Lalatnya banyak sekali, masuk terus ke rumah. Kami jadi tidak tenang, apalagi saat makan,” tambahnya.
Keluhan serupa disampaikan Adit, warga lainnya yang menilai kondisi tersebut sudah berada pada tahap mengkhawatirkan. Ia menegaskan bahwa dampak yang ditimbulkan tidak hanya sebatas gangguan kenyamanan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit.
“Ini sudah sangat meresahkan. Setiap hari kami menghadapi bau menyengat dan lalat yang terus masuk ke rumah. Kami minta segera ada tindakan tegas,” ujarnya.
Warga menilai keberadaan peternakan ayam yang terlalu dekat dengan permukiman tidak sesuai dengan prinsip tata ruang dan kesehatan lingkungan. Mereka mempertanyakan izin operasional serta sistem pengelolaan limbah yang diterapkan oleh pemilik usaha, mengingat dampak yang dirasakan sudah sangat nyata di lapangan.
Sorotan pun mengarah kepada pemerintah nagari setempat. Wali Nagari Bukit Kandung didesak untuk segera mengambil langkah konkret dan tidak hanya memberikan janji tanpa realisasi. Warga menginginkan solusi nyata agar kondisi lingkungan kembali layak huni.
“Jangan tunggu makin parah. Ini sudah jelas merugikan masyarakat. Wali Nagari harus bertindak,” tegas warga.
Selain pemerintah nagari, dinas terkait di tingkat kabupaten seperti dinas lingkungan hidup dan dinas peternakan juga diminta turun langsung melakukan inspeksi. Pemeriksaan diharapkan mencakup aspek perizinan, jarak usaha dengan permukiman, serta sistem pengelolaan limbah peternakan yang diduga menjadi sumber utama bau dan berkembangnya lalat.
Jika ditemukan pelanggaran, warga meminta adanya tindakan tegas sesuai aturan yang berlaku, termasuk kemungkinan penertiban hingga relokasi peternakan. Hal ini dianggap penting untuk memastikan hak masyarakat atas lingkungan yang sehat dan nyaman tetap terjaga.
Hingga berita ini ditulis, belum ada pernyataan resmi dari pihak pemilik peternakan maupun pemerintah setempat. Ketiadaan respons tersebut justru memperbesar kekecewaan warga yang merasa aspirasi mereka belum mendapat perhatian serius.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan usaha harus berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kenyamanan masyarakat. Tanpa pengelolaan yang baik, aktivitas ekonomi justru berpotensi menimbulkan konflik sosial dan mengganggu kualitas hidup warga di sekitarnya.
