Mojokerto – Dari dapur tradisional menuju etalase modern, cobek tanah liat kini menjelma menjadi produk bernilai seni. Sentuhan kreativitas mahasiswa berhasil mengubah wajah kerajinan lama menjadi lebih segar, membuka peluang baru bagi pengrajin lokal di tengah perkembangan tren pasar.
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Majapahit (UNIM) menggagas program re-branding terhadap produk cobek tanah liat milik pengrajin di Dusun Sambiroto, Desa Mlaten, Kabupaten Mojokerto. Program ini bertujuan meningkatkan nilai jual produk tradisional melalui inovasi desain serta strategi pemasaran berbasis digital.
Produk cobek yang dikembangkan diberi nama “LEMU”, merupakan hasil karya pengrajin lokal, Samiono, yang telah menekuni usaha gerabah selama lebih dari dua dekade. Selama ini, cobek dikenal hanya sebagai alat dapur. Namun melalui sentuhan inovasi mahasiswa, produk tersebut diubah menjadi souvenir sekaligus hiasan dekoratif dengan nilai estetika lebih tinggi.
Pengembangan dilakukan langsung di Dusun Sambiroto yang dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan gerabah di Mojokerto. Dalam prosesnya, mahasiswa menghadirkan berbagai pembaruan, mulai dari desain visual berupa lukisan dekoratif pada permukaan cobek hingga pengemasan produk menggunakan box craft yang lebih modern dan menarik.
Selain aspek visual, strategi pemasaran juga menjadi fokus utama dalam program ini. Mahasiswa memanfaatkan platform marketplace serta media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Langkah ini diharapkan mampu menjangkau konsumen yang lebih luas, terutama kalangan generasi muda yang menyukai produk lokal dengan konsep estetik dan ramah lingkungan.
Tim pengembang menjelaskan bahwa re-branding dilakukan untuk mengubah persepsi masyarakat terhadap cobek. Produk yang sebelumnya dianggap sederhana kini diarahkan menjadi barang bernilai seni yang memiliki potensi ekonomi lebih tinggi.
Dengan inovasi tersebut, cobek “LEMU” tidak hanya berfungsi sebagai alat dapur, tetapi juga sebagai elemen dekorasi yang dapat mempercantik ruangan. Perubahan ini menjadi salah satu strategi untuk menyesuaikan produk tradisional dengan selera pasar modern.
Program ini juga memberikan dampak positif bagi pengrajin lokal. Melalui pendampingan dan inovasi, pengrajin seperti Samiono diharapkan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperluas pasar penjualan produknya.
Ke depan, pengembangan produk “LEMU” diharapkan mampu memperkenalkan kerajinan gerabah Mojokerto ke tingkat yang lebih luas, bahkan hingga pasar nasional. Kolaborasi antara mahasiswa dan pelaku UMKM ini menjadi contoh nyata bagaimana inovasi dan kreativitas dapat mengangkat potensi lokal menjadi produk yang lebih kompetitif.
Dengan pendekatan yang memadukan tradisi dan modernitas, cobek “LEMU” kini bukan lagi sekadar alat dapur, melainkan simbol transformasi kerajinan lokal menuju pasar yang lebih luas dan bernilai tinggi.
