Bontang – Di bawah kubah megah Masjid Agung Al-Hijrah, lantunan ayat suci menggema bak denyut nadi kota yang bersiap menyambut Ramadhan. Pemerintah Kota Bontang kembali menegaskan komitmennya untuk menyeimbangkan pembangunan fisik dengan penguatan mental spiritual masyarakat dalam acara Tarhib Ramadhan dan Khotmil Qur’an bersama 1.300 guru ngaji, Jumat (13/2/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh LPPTKA-BKPRMI Kota Bontang itu dihadiri langsung Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, serta Ketua Komite I DPD RI, Andi Sofyan Hasdam, yang juga menyampaikan tausiyah. Momentum ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi atas arah pembangunan Kota Bontang yang tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga kesejahteraan sosial dan spiritual.
Dalam sambutannya, Neni Moerniaeni menekankan bahwa kepemimpinan yang ideal harus mampu menjaga keseimbangan antara pembangunan fisik dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah pusat dan daerah, kata dia, terus mendorong program bantuan stimulan guna menekan kesenjangan sosial.
“Kami ingin menyeimbangkan antara pembangunan fisik dan pembangunan kesejahteraan rakyat. Melalui pemberian bantuan kepada guru mengaji, masyarakat kurang mampu, dan penyandang disabilitas, diharapkan tidak ada lagi kesenjangan yang mencolok di tengah masyarakat kita,” ujar Neni.
Ia menjelaskan, berbagai program sosial telah disalurkan sebagai bentuk keberpihakan kepada kelompok rentan, termasuk insentif bagi guru mengaji yang berperan penting dalam pembinaan karakter generasi muda. Menurutnya, pembangunan kota tidak hanya diukur dari megahnya gedung atau panjangnya jalan, melainkan juga dari kualitas moral dan spiritual warganya.
Sementara itu, Andi Sofyan Hasdam dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya menjaga keikhlasan dalam pengabdian. Ia juga menyinggung sejarah kebijakan insentif guru mengaji di Bontang yang dirintis pada tahun 2000, saat dirinya menjabat sebagai kepala daerah. Kebijakan tersebut kemudian menjadi contoh dan diadopsi oleh sejumlah daerah lain di Indonesia.
Momentum Tarhib Ramadhan ini juga menjadi ruang refleksi terhadap capaian pembangunan daerah. Neni mengungkapkan bahwa sejumlah program strategis telah berjalan, meskipun belum seluruhnya rampung. Pada tahun ini, pemerintah daerah berkomitmen menuntaskan proyek-proyek prioritas.
“Sejumlah program strategis telah kita laksanakan. Meski belum seluruhnya tuntas, pada tahun ini kami berkomitmen menyelesaikan proyek infrastruktur prioritas, seperti fasilitas rumah sakit dan sistem penanggulangan banjir,” tambahnya.
Di sisi lain, semangat spiritual begitu terasa melalui program “Satu Guru Satu Juz” yang diikuti 1.300 guru ngaji. Tadarus massal dimulai sejak ba’da Subuh hingga menjelang Maghrib, menghasilkan 43 kali khataman Al-Qur’an. Rangkaian kegiatan ditutup dengan salat Isya berjamaah serta lantunan murottal surah-surah pendek yang berlangsung khidmat.
Kegiatan ini bukan sekadar seremoni menyambut bulan suci, tetapi juga simbol komitmen membangun Kota Bontang yang utuh—kuat secara infrastruktur dan kokoh secara spiritual. Pemerintah berharap harmoni antara pembangunan fisik dan mental spiritual ini mampu menciptakan masyarakat yang sejahtera, berakhlak, dan berdaya saing.
