Ramadhan tinggal hitungan hari , Jam terus bergerak hingga tiba bulan kemuliaan , pengampunan dan pembebasan dari siksa api neraka . Bulan Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ia adalah momentum peradaban ruhani. Bulan ketika umat Islam bukan hanya diuji menahan lapar dan dahaga, tetapi diuji lebih dalam: mampu atau tidak menahan dendam, iri hati, dan hasutan.
Kita hidup di zaman yang penuh kompetisi, perbedaan pilihan politik, perbedaan kepentingan, bahkan perbedaan tafsir dalam melihat realitas sosial. Tidak jarang, perbedaan itu melahirkan residu batin: sakit hati, prasangka, bahkan kebencian yang dipelihara. Jika dibiarkan, ia menjelma menjadi iri dengki dan hasut yang merusak ukhuwah serta merapuhkan sendi-sendi sosial dalam kehidupan.
Padahal Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 133–134)
Ayat ini menegaskan bahwa ukuran ketakwaan bukan hanya ritual yang terlihat, tetapi kemampuan mengelola emosi dan memaafkan.
Dalam konteks sosial dan kebangsaan, Ramadhan seharusnya menjadi ruang rekonsiliasi. Dendam , sakit hati tidak pernah melahirkan kemajuan dan ketenangan . Iri hati tidak pernah melahirkan solusi dan kebahagiaan , Hasutan hanya memperpanjang konflik dan memecah persaudaraan yang lahirkan fitnah dan pertumpahan darah .
Sebagai bangsa yang besar, kita membutuhkan energi positif untuk membangun bukan energi negatif untuk saling menjatuhkan dan menghinakan . Apalagi dalam dinamika demokrasi dan pembangunan daerah, serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan menjadi manusia dalam dunia fana ini , perbedaan adalah keniscayaan. Namun menjaga akhlak dalam perbedaan adalah pilihan.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa itu bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari perkataan sia-sia dan perbuatan keji.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini memberi pesan bahwa kualitas Ramadhan kita diukur dari kemampuan menjaga lisan dan hati. Sebab sering kali, luka terbesar tidak lahir dari tindakan fisik, melainkan dari kata-kata yang dilontarkan dengan amarah dan prasangka.
Menyambut Ramadhan berarti membersihkan ruang batin. Melepaskan dendam bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan. Memaafkan bukan berarti kalah, tetapi memilih untuk menang secara moral dan spiritual.
Ramadhan adalah madrasah keikhlasan. Ia mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada seberapa keras ia membalas, tetapi seberapa kuat ia bersabar dan memaafkan.
Mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik balik memperbaiki hubungan, memperkuat silaturahmi, dan membangun kembali kepercayaan sosial yang mungkin retak oleh perbedaan.
Sebab pada akhirnya, yang kita bawa pulang dari Ramadhan bukan sekadar gelar takwa, tetapi hati yang bersih dan jiwa yang lapang.
Semoga kita memasuki Ramadhan 1447 H ini dengan dada yang ringan, tanpa dendam, tanpa iri, tanpa hasut agar ibadah kita tidak hanya sah secara syariat, tetapi juga indah secara hakikat.
Penulis : Dr. Agusriansyah Ridwan ,S.IP,M.Si (Sekretaris Fraksi PKS DPRD Kaltim)
