Surabaya – Di tengah riuh suara satwa dan rindangnya pepohonan, diskusi serius tentang institusi kepolisian justru mengemuka. Senin (16/2/2026) sore, area Kebun Binatang Surabaya di Jalan Setail No.1, Darmo, menjadi lokasi peluncuran sekaligus bedah buku berjudul Rapot Merah Sang Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB itu menghadirkan penulisnya, Ahmad Bahar, bersama para pembaca dan pegiat literasi. Buku yang diterbitkan oleh Solusi Publishing JKT tersebut mengulas kepemimpinan Listyo Sigit Prabowo, yang dikenal sebagai Kapolri pilihan Joko Widodo.
Pemilihan lokasi di kebun binatang terbilang tidak lazim untuk tema diskusi institusi penegak hukum. Namun, menurut Ahmad Bahar, konsep tersebut memang sengaja dipilih untuk menghadirkan suasana berbeda dalam membedah isu-isu serius.
“Buku ini sudah dipesan hingga 12 ribu eksemplar. Dikirim secara bertahap melalui online. Permintaan pemesanan yang cukup besar ini tentu mengejutkan. Mengingat konon edisi buku cetak telah diganti edisi digital,” jelas Bahar di hadapan peserta diskusi.
Ia menyebut, tingginya minat pembaca menunjukkan adanya perhatian publik terhadap kinerja kepolisian. Buku tersebut, lanjutnya, berisi catatan kritis sekaligus refleksi atas berbagai dinamika yang terjadi di tubuh Polri dalam beberapa tahun terakhir.
Bahar juga memastikan agenda bedah buku tidak berhenti di Surabaya. Dalam waktu dekat, kegiatan serupa akan digelar di sejumlah kota lain di Indonesia, seperti Palu, Makassar, Medan, dan Bandung.
“Waktu berikutnya buku ini juga akan di bedah di Kota Palu, Makassar, Medan dan Bandung,” ungkapnya.
Acara diskusi tersebut turut dihadiri para pecinta buku yang sebagian besar terhubung langsung dengan penulis. Beberapa di antaranya merupakan alumni Lembaga Pena Writing School, lembaga pelatihan kepenulisan yang aktif menggelar forum literasi dan diskusi publik.
Dalam sesi tanya jawab, Bahar menegaskan bahwa buku yang ditulisnya bukan sekadar kritik personal, melainkan bentuk kepedulian terhadap institusi kepolisian sebagai pilar penegakan hukum.
“Banyak hal yang harus diperbaiki dari institusi kepolisian. Salah satunya adalah bagaimana menempatkan lembaga Polri benar-bener sebagai lembaga penegak keadilan. Kalau Polisi baik, maka masyarakat juga akan baik. Sebaliknya, polisi tidak baik akan menjadi cermin dari masyarakatnya,” pungkas Bahar.
Diskusi yang berlangsung hingga menjelang petang itu berjalan dinamis. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan kritis seputar reformasi kepolisian, transparansi penanganan kasus, serta harapan publik terhadap institusi Polri ke depan.
Bedah buku di ruang publik seperti kebun binatang ini menjadi simbol bahwa isu penegakan hukum bukan hanya milik kalangan elite, melainkan juga konsumsi masyarakat luas. Dengan hadirnya karya-karya reflektif semacam ini, diharapkan ruang dialog antara publik dan institusi negara semakin terbuka demi terciptanya sistem hukum yang lebih akuntabel dan berkeadilan.
