Bondowoso β Puluhan anggota Serikat Pekerja Perkebunan (SPBUN) PTPN XII menggelar aksi solidaritas dan damai di depan Kantor Pemerintah Kabupaten Bondowoso, Selasa (6/1/2026). Aksi ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi ribuan pekerja perkebunan kopi di Kecamatan Ijen yang terdampak konflik berkepanjangan.
Aksi tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk menyuarakan kondisi pekerja, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada aparat penegak hukum dan Pemerintah Daerah dalam menjaga keamanan serta melindungi aset negara di wilayah perkebunan Ijen.
Ketua Umum SPBUN PTPN XII, Bramantya, menegaskan bahwa aksi ini dilakukan secara damai dan bertujuan menyuarakan hak-hak pekerja agar bisa kembali bekerja dengan aman dan tenang.
βIni aksi solidaritas. Para pekerja hanya ingin bekerja dengan tenang untuk menafkahi keluarganya,β ujar Bramantya di sela kegiatan.
Menurutnya, terhentinya aktivitas di Afdeling Kaligedang sejak September lalu, akibat pembabatan sekitar 168 hektare kebun kopi, telah berdampak signifikan terhadap kehidupan ribuan tenaga kerja serta roda perekonomian masyarakat setempat. Pekerja yang biasanya menggantungkan hidup dari hasil perkebunan kini menghadapi ketidakpastian akibat konflik yang belum usai.
Aksi para pekerja ini kemudian diterima langsung oleh pihak Pemerintah Kabupaten Bondowoso. Pemerintah daerah menyatakan bahwa aspirasi tersebut telah diterima dan akan ditindaklanjuti sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Pernyataan yang tegas ini mendapat respons positif dari para peserta aksi yang berharap adanya solusi konkret di lapangan.
Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyambut baik aspirasi yang disampaikan dalam aksi damai tersebut. Menurutnya, penyampaian aspirasi secara tertib menjadi bagian dari hak warga negara dan dapat menjadi jembatan penyelesaian masalah sosial sekaligus menjaga rasa aman serta keberlangsungan hidup masyarakat.
Sementara itu, Manajemen PTPN I Regional 5 menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan aksi damai yang digelar oleh SPBUN. Manajemen menilai langkah tersebut sebagai bentuk empati dan dukungan terhadap penegakan hukum serta upaya pengamanan aset negara di lingkungan perkebunan.
Dengan berakhirnya aksi ini secara damai dan tertib, harapan para pekerja serta masyarakat sekitar kini tertumpu pada langkah nyata dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan pihak perusahaan untuk segera menjawab persoalan yang telah berlangsung sejak lama.
