Solok – Di tengah kemacetan parah di jalan nasional Solok–Padang yang berubah menjadi lautan kendaraan dan asap knalpot, muncul pemandangan tak biasa: Bupati Solok, Jon Firman Pandu, melepas kenyamanan mobil dinas dan memilih melaju dengan sepeda motor. Keputusan ini bukan aksi simbolis semata, melainkan tekad nyata untuk memastikan percepatan rekonstruksi pascabencana tidak tertunda barang satu menit.
Aksi tersebut terjadi pada Senin (8/12/2025) siang, saat jalur utama Solok–Padang lumpuh akibat volume kendaraan yang membludak. Di tengah situasi itu, Bupati Jon melompat ke atas motor, mengenakan helm sederhana, dan dengan pendampingnya menyusuri jalan sempit di antara truk dan bus besar menuju Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Sumatera Barat.
“Saya tidak bisa hanya menunggu laporan. Harus datang langsung dan memastikan semuanya berjalan,” ujar Bupati Jon di tengah pertemuan intens tersebut.

Pertemuan itu pun membuahkan hasil penting. Usulan rehabilitasi dua kawasan terdampak bencana di Solok, yaitu Junjung Sirih dan X Koto Singkarak, disetujui dengan total anggaran mencapai Rp82 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk percepatan pembangunan ulang infrastruktur dan fasilitas umum, yang sangat dinantikan oleh ribuan warga terdampak.
Kurniati Tipasatrio, salah satu pejabat yang mendampingi Bupati, menyatakan, “InsyaAllah, kami akan terus mengawal proses ini demi masyarakat Solok.”
Langkah Bupati Jon tidak hanya mencuri perhatian warga, tetapi juga menegaskan filosofi kepemimpinan yang hadir, melihat, dan bertindak. Di tengah hiruk-pikuk jalanan, keberanian menembus kemacetan menjadi simbol bahwa pemulihan pascabencana bukan sekadar program kerja, melainkan bentuk nyata dari kepedulian yang dikawal langsung oleh kepala daerah.
Ketika masyarakat Solok masih berjuang bangkit dari dampak bencana, kepemimpinan seperti inilah yang menjadi suntikan semangat. Sehari yang melelahkan, namun penuh makna, menyampaikan satu pesan kuat: pemimpin sejati adalah mereka yang tak ragu mengambil langkah pertama, bahkan jika harus mengendarai motor melawan arus kemacetan, demi memastikan harapan warganya tetap hidup.
