Solok – Warga Nagari Bukitkandung, Kabupaten Solok, mendesak pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan ulang terhadap pengerjaan jalan Bukitkandung–Panjalanggan. Pasalnya, meski proyek — yang dibiayai pusat lewat Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) — sudah berjalan, muncul dugaan bahwa kualitas pengerjaannya jauh dari standar.
Pekerjaan yang dikerjakan oleh kontraktor PT Aska Beton Utama menggunakan anggaran sekitar Rp 9,6 miliar. Namun sejumlah warga menilai bahan adukan semen dan pasir yang dipakai tidak sesuai spesifikasi — disebutkan satu sak semen dicampur lima gerobak pasir — yang menurut mereka bisa menyebabkan jalan cepat rusak. Seorang warga menyatakan, “Jika benar, jalan ini tidak akan bertahan lama.”
Selain masalah bahan adukan, warga juga menyoroti lemahnya pengawasan dari konsultan pelaksana, yang diyakini justru membuat proyek “rentan penyimpangan.” Warga menilai pekerjaan tampak dilakukan tanpa pondasi kuat, meskipun medan di kawasan itu dikenal labil dan membutuhkan fondasi stabil seperti tiang pancang atau sistem penahan tanah.
Para tokoh masyarakat mendesak agar BPJN dan pemerintah kabupaten segera turun ke lapangan, memeriksa progres serta mutu pekerjaan. Mereka menginginkan audit independen — jika terbukti penyimpangan, pengerjaan dihentikan sementara dan diperbaiki sesuai standar teknik konstruksi jalan.
Sementara kontraktor menegaskan bahwa pengerjaan dilakukan sesuai kontrak. “Kami terbuka untuk audit lapangan,” kata perwakilan PT Aska Beton Utama. Namun bagi warga, pernyataan itu tak cukup — mereka ingin bukti bahwa material dan pelaksanaan memenuhi persyaratan teknis.
Proyek jalan Bukitkandung–Panjalanggan digadang sebagai jembatan vital bagi mobilitas warga, distribusi logistik, dan akses layanan di daerah perbatasan. Kehadiran jalan diharapkan membawa dampak besar bagi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Namun, tanpa pengawasan maksimal, masyarakat khawatir pengharapan panjang mereka justru berakhir dengan proyek “asal jadi” yang tak bertahan lama.
Warga dan pemangku kepentingan berharap agar pembangunan tetap transparan dan akuntabel — agar anggaran besar negara tak sia‑sia dan hasilnya benar‑benar dirasakan oleh masyarakat.
