Di ruang tamu sebuah rumah, televisi menyala menayangkan berita malam. Seorang ayah menyimak serius laporan cuaca, lalu berpindah ke sinetron yang menemani makan malam. Di kamar sebelah, anak remajanya tertawa pelan sambil scrolling TikTok, menonton video pendek yang membahas tren skincare, komentar soal isu politik, hingga parodi sinetron itu sendiri.
Pemandangan ini bukan hal baru. Dalam keseharian kita, TV dan TikTok hidup berdampingan sebagai dua dunia yang saling bersaing membentuk cara kita memandang dunia. Kita kadang tak sadar, bahwa keduanya bisa membentuk opini, mempengaruhi sikap, bahkan menentukan arah pilihan sosial dan politik.
Pertanyaannya, di era digital dan media sosial hari ini: siapa yang lebih kuat membentuk opini publik, TV yang mapan dan formal, atau TikTok yang cepat dan personal?
Dari Jadwal Siaran ke Arus Algoritma
Dulu, televisi adalah raja media. Setiap keluarga mengandalkan berita malam sebagai sumber informasi utama. Talk show menjadi ruang diskusi publik yang serius, dan iklan di TV bisa menentukan selera konsumsi masyarakat. Informasi datang dalam struktur rapi, dalam jadwal tayang tetap, dan penonton menerima secara pasif apa yang disuguhkan.
Namun kini, kita memasuki era algoritma. TikTok dan platform serupa menghadirkan konten yang datang secara personal, cepat, dan instan. Konten ditampilkan berdasarkan preferensi kita, interaksi sebelumnya, dan tren yang sedang ramai. Tak perlu menunggu jam tertentu. Informasi datang dalam hitungan detik, dari berbagai suara, baik ahli, kreator, hingga orang biasa.
Studi dari Pew Research menunjukkan bahwa lebih dari 40% anak muda di bawah 30 tahun di Amerika kini rutin mendapat berita dari TikTok. Angka ini naik pesat dari hanya 9% pada 2020. Di Indonesia, meski data sejenis masih terbatas, tren serupa bisa dirasakan. Kita tak lagi sekadar menonton; kita berpartisipasi, bereaksi, dan menyebarkan.
TV: Stabil, Terstruktur, dan Masih Berpengaruh
Televisi, meskipun tampak tradisional, tetap memiliki kekuatan besar dalam membentuk opini. Dengan adanya gatekeeper seperti redaksi dan jurnalis profesional, TV cenderung menjaga standar etika, regulasi, dan akurasi informasi.
Liputan berita, debat politik, sinetron, bahkan iklan kampanye, semuanya menjadi alat yang bisa membingkai cara berpikir masyarakat. Misalnya, bagaimana sebuah isu politik ditayangkan di berita, siapa narasumbernya, gaya bertutur pembawa acara, hingga visual yang ditampilkan, semua bisa memengaruhi persepsi penonton.
Bahkan sinetron yang tayang tiap malam, secara tidak langsung membentuk nilai, norma, dan gaya hidup yang dianggap “ideal” oleh masyarakat. World Television Day yang diperingati tiap 21 November oleh PBB, menjadi pengingat bahwa TV pernah dan masih menjadi alat penyadaran publik yang berpengaruh di dunia.
TikTok: Cepat, Personal, dan Emosional
Namun di sisi lain, TikTok menawarkan cara baru dalam membentuk opini—yang terasa lebih dekat, spontan, dan personal. Feed “For You Page” menampilkan video sesuai minat, tren, dan interaksi kita. Kreator TikTok hadir bukan sebagai sosok berjarak seperti presenter TV, melainkan seperti teman sebaya: berbagi pengalaman pribadi, memberi opini, atau sekadar lucu-lucuan.
Konten seputar isu sosial, standar kecantikan, gaya hidup sehat, hingga edukasi politik bisa viral dalam hitungan jam. Di sinilah letak kekuatannya—TikTok mengemas informasi dalam bentuk menarik, pendek, dan sering kali emosional. Namun kekuatan ini juga membawa risiko: penyebaran misinformasi, polarisasi akibat echo chamber, serta tekanan sosial karena FOMO (fear of missing out).
Sebuah studi di Taiwan bahkan menyebutkan bahwa pengguna TikTok yang aktif lebih cenderung setuju dengan narasi tertentu, menunjukkan bahwa pengaruh algoritma bisa membentuk preferensi politik tanpa disadari.
Saling Saingi atau Saling Melengkapi?
Lalu, apakah TikTok dan TV bersaing atau justru saling melengkapi? Keduanya punya kelebihan dan kelemahan. Televisi unggul dalam hal kepercayaan dan kedalaman informasi. Ia menawarkan struktur, regulasi, dan kesempatan untuk memahami isu secara menyeluruh.
Namun, ia kurang cepat dan tak sepersonal TikTok. Sementara itu, TikTok unggul dalam kecepatan, daya tarik visual, dan interaktivitas. Namun, ia seringkali terbatas dalam kedalaman dan akurasi informasi. Kini, kita melihat banyak stasiun televisi mulai aktif di TikTok, mengubah klip berita menjadi konten pendek agar bisa menjangkau generasi muda.
Sebaliknya, banyak kreator TikTok justru kritis terhadap isi tayangan televisi, menyuarakan opini tandingan yang tidak muncul di media arus utama. Ini menunjukkan bahwa TV dan TikTok tidak harus saling menggantikan. Mereka bisa saling mengisi, membuka perspektif baru, dan mendorong diskusi yang lebih luas.
Pilihan Ada di Tangan Kita
Di tengah derasnya arus informasi dari berbagai arah, yang terpenting bukan hanya platform mana yang lebih kuat, tetapi sejauh mana kita sebagai individu bisa memilah, memverifikasi, dan merefleksikan informasi yang kita terima.
Literasi media adalah kunci, bukan hanya untuk mengetahui “mana yang benar”, tapi juga memahami bagaimana informasi membentuk cara kita berpikir. Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya “Siapa yang membentuk opiniku: TV atau TikTok?”, tapi lebih dalam lagi: “Apakah aku sendiri yang memilih apa yang ingin dipercaya?”
