Jakarta – Gelombang komentar pedas membanjiri unggahan MetroTV tentang program “1 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran.” Dalam poster itu, terlihat Luhut Binsar Pandjaitan masih berperan sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional RI.
Meski bukan jabatan baru, kehadiran Luhut di materi promosi itu langsung memancing reaksi negatif. Netizen ramai-ramai menilai, simbol ekonomi nasional seolah tak pernah berganti wajah.
“Maleesss banget liatnya,” tulis seorang pengguna. Yang lain menimpali, “Kapan pensiunnya, Lord segala urusan?” Komentar-komentar seperti ini membanjiri unggahan, menunjukkan kejenuhan publik terhadap dominasi figur lama.
Banyak warganet menegaskan bahwa mereka bukan bagian dari tim buzzer atau akun bayaran. Mereka menyebut diri “netizen asli”—rakyat biasa yang sudah lelah melihat wajah yang sama setiap kali bicara soal ekonomi dan kebijakan publik.
“Yang komentar positif itu buzzer, yang jujur malah diserang,” tulis satu akun lain dengan nada kesal. Sentimen ini menggambarkan ketegangan lama antara suara publik organik dan narasi media yang dianggap terlalu berpihak.
Beberapa komentar bahkan bernada satir. “Kita kerja disuruh umur maksimal 25, tapi pejabat umur 70-an masih rebut kursi,” tulis akun @erwe9018. Yang lain menulis singkat, “Udah, pensiun aja. Kasih giliran yang muda.”
Di sisi lain, sebagian kecil warganet mencoba objektif. Mereka menilai, meski pengalaman Luhut di bidang investasi dan energi tak bisa diabaikan, publik berhak merasa bosan. “Tiap masalah ekonomi, ujung-ujungnya dia lagi,” ujar pengguna lain.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa kejenuhan publik bukan sekadar emosi sesaat. Rakyat ingin perubahan nyata, bukan sekadar narasi stabilitas ekonomi yang diulang terus tanpa hasil. Mereka menilai, wajah lama terlalu sering dipromosikan sebagai “jawaban,” padahal masalah tetap menumpuk.
Bagi sebagian netizen, poster MetroTV itu menjadi simbol betapa suara rakyat sering diabaikan. Mereka merasa ruang publik kini dikuasai oleh narasi buzzer dan media besar yang memoles citra pejabat.
Namun kali ini, gelombang komentar tampak berbeda. Nada spontan, emosi yang tulus, dan humor sarkastik membuat publik bisa mengenali mana suara rakyat dan mana yang dibuat-buat.
“Yang komentar di sini bukan buzzer, tapi rakyat yang capek,” tulis satu akun dengan ratusan likes. Banyak yang setuju, komentar jujur justru lebih menggambarkan realitas ketimbang pujian kosong.
Satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi momen penting bagi citra publik. Pemerintah perlu memahami bahwa kepercayaan tidak bisa dibangun lewat pencitraan, tapi lewat hasil nyata yang dirasakan rakyat.
Netizen sudah bersuara lantang tanpa dibayar. Kini, giliran pemerintah yang membuktikan apakah mereka benar-benar mau mendengar.
