Jejak maritim kuat tetap melekat dalam denyut kehidupan Bontang meski identitas industri begitu dominan. Di tengah geliat LNG dan pupuk, kota ini masih menjaga perannya sebagai sentra perikanan pesisir yang berakar kuat dari komunitas nelayan dan kekayaan lautnya.
Pusat aktivitas perikanan terletak di PPI/TPI Tanjung Limau, yang secara resmi ditetapkan melalui Kepmen KP No. 35/2016. Dermaga ini menjadi titik utama pendaratan ikan, lelang, serta distribusi pasokan laut. Pada Mei 2024, gedung barunya diresmikan bersamaan dengan penyaluran bantuan alat tangkap. Namun, Oktober 2025, bagian atap selasar dermaga rusak diterjang angin—peringatan bahwa infrastruktur pesisir harus lebih tahan terhadap iklim ekstrem.
Statistik BPS mencatat dua tulang punggung utama: perikanan tangkap dan budidaya. Ikan pelagis dari laut terbuka, budidaya tambak (udang, bandeng), serta rumput laut dari kawasan Malahing menjadi komoditas utama. Studi dari Universitas Mulawarman menunjukkan usaha purse seine di Bontang masih menguntungkan dengan masa balik modal sekitar 3,5 tahun—tanda kuat bahwa usaha nelayan kecil masih sangat layak, jika didukung ekosistem pasar dan logistik.
Wilayah Bontang Kuala dan Malahing menjadi kantong budaya pesisir. Keduanya menampilkan warisan kampung laut sekaligus menggantungkan ekonomi lokal pada laut: dari ikan segar hingga olahan rumput laut. Di Malahing, bahkan sudah dikembangkan desa wisata dengan potensi suvenir dan kuliner khas.
“Tantangan utama hari ini bukan cuma hasil tangkapan, tapi bagaimana menjaga kualitas dan keberlanjutan. Rantai dingin dan alat tangkap yang ramah lingkungan adalah kunci,” ungkap seorang pengelola PPI saat diwawancarai oleh media lokal.
Pemerintah menyiapkan serangkaian langkah: memperbaiki struktur atap dermaga, menyediakan es dan ruang grading dekat dermaga, serta mempercepat waktu pendinginan ikan (time-to-ice). Di sisi budidaya, Malahing diarahkan menjadi titik pengolahan sederhana rumput laut dan teripang—mendongkrak nilai jual produk.
Selain itu, DKP Kaltim mendorong perubahan perilaku nelayan melalui edukasi alat tangkap legal dan penertiban ruang laut. Ini penting untuk menjaga jalur pelayaran dan mencegah konflik zona tangkap.
Kombinasi pendekatan teknis, sosial, dan kelembagaan ini menjadi jalan agar Bontang tak hanya kuat di industri besar, tapi juga tangguh di ekonomi pesisirnya. Jika keberlanjutan bisa dijaga, maka laut akan terus memberi kehidupan, bukan sekadar hasil.
