Tasikmalaya – Dengan semangat gotong royong, Pesantren Pramuka Khalifa menyalakan obor antusiasme Pramuka Cisayong lewat JUSAMI CAMP JOTA-JOTI 2025 di Dexview Camplex—tiga hari yang merayakan keceriaan, keberanian, dan jejaring lintas benua bagi 38 peserta.
Seperti gelombang radio yang menembus jarak, perkemahan ini menghadirkan ruang perjumpaan lintas sekolah dan lintas budaya dalam bingkai komunitas.
Upacara pembukaan digelar di lapangan Dexview Camplex, kompleks Pesantren Pramuka Khalifa, pada Jumat (17/10/2025) dan rangkaian kegiatan berlanjut hingga 19 Oktober 2025.
Acara berbasis komunitas ini menyatukan peserta dari SD dan SMP di Kecamatan Cisayong—dengan dukungan kuat dari SMPN 1 Cisayong—untuk mengikuti JUSAMI CAMP (Jumat, Sabtu, Minggu) yang dipadukan dengan JOTA-JOTI, ajang pramuka dunia yang memanfaatkan radio dan internet sebagai jembatan komunikasi global.
Di sinilah “siapa, apa, kapan, di mana, mengapa, dan bagaimana” bertemu: Pesantren sebagai tuan rumah, sekolah-sekolah lokal sebagai penggerak, dan teknologi sebagai penghubung.
“Be happy, Enjoy, Bukan sesuatu yang menakutkan. Berinteraksi dengan orang dari berbagai belahan dunia. Lakukan yang terbaik, selesaikan yang sudah kita mulai,” ujar Ketua Yayasan Udex Institute sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Gugusdepan (Mabigus), Lina Marlina, menekankan pentingnya keberanian, keceriaan, dan konsistensi bagi seluruh peserta.
Dukungan lokal tampak dari partisipasi meluas dan penataan regu yang rapi. Kelompok putra terbagi menjadi dua regu—total 12 peserta—yakni Trias, Rijal, Keisa, Zidan, Azka, Gilang; serta Amsar, Sakha, Dika, Febrian, Zulfa, Nizar.
Pada kelompok putri terdapat tiga regu—26 peserta—yang terdiri dari Fina, Naila, Kaifa, Rayya, Zahra, Alvina, Tsania, Aisyah, Tahira; lalu Nisa, Rhesna, Tika, Wulan, Sahra, Nur Zahra, Nahla, Kamilla; serta Afra, Zafitha, Bintang, Chelsy, Syahla, Keila, Nayshilla, Nuril, Aisyie. Komposisi ini menandakan keterlibatan berimbang antarsekolah dan antartingkat, memperkuat jejaring pelajar di Cisayong.
Peran pesantren sebagai jangkar komunitas terasa dalam penyediaan ruang aman, pendampingan pembina, dan budaya disiplin yang membingkai seluruh aktivitas. Peserta bukan hanya berkemah; mereka belajar etika bersiaran, kerja sama regu, kepemimpinan, dan literasi digital ketika berkomunikasi dengan pramuka dari berbagai negara. Dengan cara itu, dukungan sekolah, orang tua, dan lingkungan sekitar bertemu pada satu tujuan: membentuk karakter yang gembira, tangguh, dan bertanggung jawab.
Rangkaian agenda dikemas dalam sesi pengenalan JOTA-JOTI, permainan kolaboratif, dan penugasan proyek kecil yang harus dimulai dan dituntaskan bersama—selaras dengan pesan pembina. Evaluasi harian membantu tiap regu merefleksikan proses, bukan sekadar mengejar hasil. Begitulah format JUSAMI CAMP JOTA-JOTI 2025: sederhana namun berdampak, menempatkan komunitas sebagai inti pembelajaran.
Menjelang penutupan pada [19 Oktober 2025], gema sorak dan sinyal yang melintas udara menjadi penanda bahwa Cisayong memiliki modal sosial kuat untuk mendidik generasi muda. Di Dexview Camplex, keceriaan, keberanian, dan jejaring lintas benua bukan lagi jargon, melainkan pengalaman yang membekas.
“Tetap ceria, berani mencoba, sapa dunia dengan santun, dan jaga komitmen sampai garis akhir,” ujar Lina Marlina membuka JUSAMI CAMP Khalifa JOTA-JOTI 2025.
