Malang – Fenomena penggunaan sound horeg dalam berbagai tradisi masyarakat pesisir belakangan semakin sering menjadi perhatian publik. Di sejumlah daerah, sistem audio berukuran besar bahkan diangkut menggunakan kapal untuk memeriahkan kegiatan budaya dan perayaan masyarakat. Namun di balik kemeriahan tersebut, terdapat aspek keselamatan maritim yang perlu mendapat perhatian serius.
Kajian yang dilakukan oleh tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) menunjukkan bahwa pemasangan perangkat sound berukuran besar di atas kapal dapat meningkatkan risiko kecelakaan pelayaran, terutama pada kapal kayu berukuran kecil hingga menengah. Penelitian tersebut dipimpin oleh Dr. Sunardi, ST., MT. bersama tim peneliti FPIK UB yang mengkaji dampak pemasangan sistem audio berdaya tinggi terhadap stabilitas kapal dan kekuatan struktur lambung.
Perhatian terhadap isu ini semakin relevan setelah sejumlah insiden kapal bermuatan sound horeg terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terjadi pada tradisi Nyadran di Sidoarjo pada Februari 2026, ketika sebuah perahu yang membawa perangkat audio dan generator tenggelam akibat kelebihan beban. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa aspek keselamatan perlu menjadi pertimbangan utama dalam setiap aktivitas di atas kapal.
Menurut Sunardi, salah satu faktor paling penting dalam keselamatan kapal adalah stabilitas. Kapal yang stabil akan mampu kembali ke posisi tegak setelah menerima pengaruh gelombang, angin, maupun perpindahan beban. Sebaliknya, kapal dengan stabilitas rendah lebih mudah miring dan berisiko terbalik.
“Ketika beban yang berat ditempatkan di bagian atas kapal, pusat gravitasi kapal akan naik. Kondisi ini menyebabkan kemampuan kapal untuk mempertahankan keseimbangan menjadi berkurang. Ketika mendapatkan gaya dari luar semisal gelombang, angin dan sebagainya akan menyebabkan kapal oleng. Jika gaya yang bekerja semakin besar, maka sudut oleng makin besar, jika melampaui batas, maka kapal tidak akan bisa kembali pada posisi tegaknya atau kapal terbalik,” jelasnya.
Dalam kajian tersebut, tim peneliti menggunakan studi kasus kapal kayu sepanjang 15 meter yang umum digunakan oleh nelayan di pesisir Jawa Timur. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan sound system, generator set dan sejumlah penumpang yang yang berjoget di atas dek secara signifikan menurunkan semua parameter stabilitas mengacu pada kriteria stabiltas untuk semua jenis kapal. Hal ini diduga menjadi sebab utama banyaknya kejadian terbaliknya kapal dengan tambahan spund horeg yang terjadi akhir-akhir ini.
Selain risiko kapal kehilangan keseimbangan, penelitian juga menemukan ancaman lain yang sering tidak disadari, yaitu kerusakan struktur kapal akibat getaran. Sistem sound horeg menghasilkan getaran berfrekuensi tinggi dalam rentang 20 hingga 2.000 Hz. Getaran ini merambat langsung ke rangka dan papan kayu di bawahnya. Setiap siklus putaran musik adalah satu siklus tekanan pada sambungan kayu, baut, dan lem yang menyatukan lambung kapal.
Kondisi laut memperburuk segalanya. Kapal yang sudah menerima beban getaran dari sistem audio, secara bersamaan juga menerima beban dinamis dari gelombang laut. Dua sumber tekanan ini bekerja bersama-sama, mempercepat proses pelemahan struktur kapal jauh lebih cepat daripada jika hanya satu sumber saja yang bekerja. Kerusakan ini sering tidak tampak dari luar dalam jangka pendek. Retakan kecil pada sambungan kayu, longgarnya baut yang menahan papan, atau merembesnya air melalui celah yang terbentuk secara perlahan, semuanya adalah tanda-tanda kerusakan yang bisa berkembang menjadi kegagalan struktural mendadak.
Tim peneliti menjelaskan bahwa kombinasi antara penurunan stabilitas dan pelemahan struktur kapal merupakan kondisi yang perlu diwaspadai. Kapal tidak hanya menjadi lebih mudah terbalik, tetapi juga mengalami penurunan kemampuan struktur untuk menahan tekanan dari lingkungan sekitarnya.
Meski demikian, penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menolak atau menghilangkan tradisi masyarakat pesisir yang telah berlangsung turun-temurun. Sebaliknya, kajian ini bertujuan memberikan informasi ilmiah agar pelaksanaan tradisi tetap dapat berlangsung dengan aman tanpa mengorbankan keselamatan masyarakat.
“Tradisi merupakan bagian penting dari identitas masyarakat pesisir. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa pelaksanaannya mempertimbangkan aspek keselamatan sehingga tidak menimbulkan risiko bagi penumpang maupun kapal,” ungkap Sunardi.
Temuan penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan kajian ilmiah untuk meningkatkan aspek keselamatan dan keandalan transportasi perairan, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) dengan mendorong pelaksanaan tradisi masyarakat yang lebih aman dan tangguh terhadap risiko kecelakaan, SDG 14 (Life Below Water) melalui upaya menjaga aktivitas kelautan yang berkelanjutan tanpa mengancam keselamatan maupun ekosistem pesisir, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui penguatan peran perguruan tinggi dalam menghasilkan riset yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan dan edukasi keselamatan maritim bagi masyarakat.
Melalui penelitian ini, FPIK UB berharap masyarakat semakin memahami pentingnya memperhatikan kapasitas muatan kapal, distribusi beban, serta kondisi teknis kapal sebelum digunakan dalam berbagai kegiatan. Edukasi keselamatan maritim menjadi langkah penting untuk mencegah kecelakaan sekaligus menjaga keberlanjutan aktivitas sosial dan budaya masyarakat pesisir.
Kajian ini juga menunjukkan bagaimana riset perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan menggabungkan pendekatan teknik perkapalan, keselamatan pelayaran, dan pemahaman terhadap budaya pesisir, hasil penelitian diharapkan dapat menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih aman dan berbasis sains.
