Solo – Wali Kota Solo sekaligus Wakil Presiden, Gibran Rakabuming, memberikan tanggapan yang tenang atas kabar bahwa Roy Suryo dan dokter Tifa mendatangi makam keluarga Jokowi. Menurutnya, aksi tersebut tak perlu dipolitisasi dan lebih baik dipahami sebagai bentuk rasa hormat dan empati.
Peristiwa itu terjadi pada hari sebelumnya, ketika Roy Suryo dan dokter Tifa diketahui melakukan ziarah ke makam kakek-nenek Gibran dan Jokowi. Aksi ini kemudian menarik perhatian publik dan media, memunculkan berbagai spekulasi di tengah dinamika politik. Mengenai hal ini, Gibran menegaskan bahwa niat utama adalah “doa dan penghormatan”, tidak lebih dari itu.
Menurut Gibran, kedatangan kedua figur tersebut “tidak bermasalah” selama dilakukan dengan etika dan ketulusan. Ia pun menyampaikan rasa terima kasih atas doa yang dipanjatkan untuk keluarganya.
“Saya menghargai kehadiran mereka. Terima kasih atas doa untuk keluarga kami,” ujar Gibran, dalam acara jumpa pers singkat.
Dalam pandangan Gibran, sikap terbuka menjadi cara terbaik agar tidak ada salah tafsir di masyarakat. Ia mengajak pihak media dan masyarakat agar tidak membesar-besarkan momen tersebut menjadi polemik politik, melainkan melihatnya sebagai wujud kepedulian sosial.
Kunjungan ke makam sering kali menjadi simbol penghormatan dan refleksi pribadi, terutama dalam budaya Indonesia yang kuat nilai kegotong‑royongan dan silaturahmi. Namun ketika figur publik terlibat, makna kunjungan bisa berubah menjadi sorotan publik dengan berbagai interpretasi. Di sinilah sikap bijak dari pihak-pihak terkait menjadi penting agar nuansa penghormatan tidak tersamar menjadi beban kontroversi.
Sebelumnya, nama Roy Suryo sempat ramai karena aktivitas politik dan media. Dokter Tifa juga dikenal sebagai tenaga medis yang kerap muncul dalam sorotan publik. Keduanya yang mendatangi makam keluarga Jokowi menjadi peristiwa yang menyedot perhatian publik karena dihubungkan dengan kemungkinan pesan simbolik politik.
Meski demikian, Gibran berusaha meredam kegaduhan dengan menyatakan bahwa niat ziarah semata-mata spiritual dan emosional. Ia meminta agar publik melihatnya secara wajar, tanpa menimbulkan kesan bahwa ada unsur manipulasi.
Menutup tanggapannya, Gibran menegaskan ia membuka ruang komunikasi dan menghormati setiap bentuk kunjungan penuh keikhlasan. Ia berharap masyarakat tidak cepat mengambil kesimpulan negatif terhadap tindakan yang sejatinya sederhana: memberi penghormatan pada keluarga.
