Surabaya – Selama ini, besar kecilnya perusahaan kerap dijadikan patokan dalam menilai keberhasilan direksi dan komisaris. Namun, apakah ukuran itu benar-benar mencerminkan kemampuan mereka menciptakan nilai? Pertanyaan tersebut coba dijawab melalui laporan terbaru yang diluncurkan Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga bekerja sama dengan Illinois State University, Amerika Serikat.
Laporan berjudul “Value Creation of Board of Directors and Commissioners in Indonesian Public Companies (2021–2023)” ini resmi dirilis di Surabaya pada Senin (22/9/2025). Riset tersebut memperkenalkan Wealth Creation Performance (WCP), sebuah ukuran baru yang menilai kinerja direksi dan komisaris berdasarkan pertumbuhan nilai perusahaan bagi pemegang saham selama masa jabatan mereka.
Menurut CESGS, metode ini membuat perbandingan lebih adil. Pemimpin dari perusahaan kecil sekalipun bisa mendapatkan pengakuan jika mampu meningkatkan nilai pasar secara signifikan. Penilaian dilakukan terhadap 902 perusahaan publik yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 2023, mencakup 11 sektor industri berbeda.
“Kami ingin mendorong cara pandang baru, di mana kepemimpinan korporasi diukur dari kemampuan mereka menciptakan pertumbuhan berkelanjutan, bukan hanya dari reputasi atau skala usaha,” ujar Prof. Iman Harymawan, Ph.D, CEO CESGS Universitas Airlangga.
Ia menekankan bahwa peluncuran laporan ini bukan sekadar rilis akademik, melainkan tonggak penting dalam menggeser paradigma penilaian pemimpin perusahaan publik di Indonesia. Transparansi dan objektivitas, lanjutnya, menjadi modal besar bagi terciptanya tata kelola perusahaan yang sehat dan berdaya saing.
Dari riset tersebut, sejumlah fakta menarik terungkap. Sektor dengan jumlah perusahaan terbanyak adalah Consumer Cyclicals dengan 147 perusahaan, disusul sektor Financials sebanyak 122 perusahaan. BCA masih tercatat sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar sepanjang 2021–2023. Namun, Bank Jago sempat memimpin pertumbuhan nilai pada 2021, sebelum kembali didominasi BCA pada dua tahun berikutnya.
Selain itu, laporan ini juga menyoroti ukuran dewan direksi terbesar serta akumulasi pertumbuhan nilai tertinggi dari berbagai perusahaan publik di Indonesia. Semua data dikumpulkan dan diolah dengan metodologi yang divalidasi bersama peneliti internasional, untuk memastikan akurasi serta kredibilitas hasil.
CESGS membuka akses publik terhadap laporan lengkap ini melalui tautan bit.ly/cesgs-wealthcreation. Dengan publikasi tersebut, diharapkan lahir kesadaran baru tentang pentingnya tata kelola perusahaan yang kuat demi terciptanya pasar modal Indonesia yang sehat, inklusif, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional.
