Mojokerto – Dukungan moral bagi program makan bergizi gratis (MBG) dari Presiden Prabowo Subianto kembali datang dari kalangan pesantren. Kiai Bimo Agus Sunarno, pengasuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Segoro Agung Trowulan, menilai program tersebut merupakan langkah nyata untuk mengurangi stunting dan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam pandangannya, stunting bukan sekadar isu kesehatan, melainkan berkaitan erat dengan pendidikan dan masa depan bangsa. Ia mengingatkan pentingnya pemberian makanan bergizi sejak usia dini hingga sekolah menengah agar generasi muda memiliki fondasi kesehatan yang kuat.
“Banyak santri dan siswa di desa berangkat sekolah dengan perut kosong. Ini bukan sekadar soal pendidikan, tapi juga menyangkut masa depan bangsa,” ujarnya pada Rabu (20/8/2025).
Sebagai bentuk dukungan konkret, Pondok Pesantren Segoro Agung tengah mengadakan uji coba program MBG di dapur Program Pemberdayaan Gizi (SPPG) di kawasan Monumen Patung Garuda, Trowulan.
Kiai Bimo menilai, agar program ini berjalan tepat sasaran, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat. Ia juga mendorong pelibatan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengarah kebijakan sekaligus pengawas agar pelaksanaan tidak menyimpang dari tujuan.
“Tidak cukup dengan pendekatan struktural. Pesantren dan lembaga pendidikan harus aktif memastikan anak-anak benar-benar mendapat gizi yang layak,” tegasnya.
Selain mengatasi masalah gizi, ia menyebut program MBG juga bisa mendongkrak kualitas belajar siswa. Dengan tubuh yang sehat, anak-anak dinilai mampu menyerap pelajaran lebih baik, sehingga prestasi akademik pun berpotensi meningkat.
Menutup pernyataannya, Kiai Bimo mengajak masyarakat luas, khususnya dunia pendidikan Islam, untuk ikut mengawal implementasi program makan gratis agar tepat sasaran.
“Momentum ini jangan disia-siakan. Pesantren harus ikut menjadi garda terdepan solusi bangsa,” tutupnya.
Mayjen Purnawirawan Gautama Wiranegara, pembina sekaligus pengawas Yayasan Segoro Agung, turut memberikan apresiasi. Menurutnya, kebijakan makan gratis merupakan wujud nyata keberpihakan negara terhadap kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis pendidikan.
“Alhamdulillah, kegiatan uji coba kali ini berjalan dengan sukses. Ini adalah bentuk keberpihakan negara untuk gerasi yang lebih baik. Yaitu Generasi Emas 2045,” terangnya.
Dengan dukungan para tokoh agama, pemerintah pusat diharapkan semakin mantap melanjutkan agenda pembangunan manusia dan memperkuat ketahanan gizi nasional demi masa depan Indonesia.
