Star syndrome adalah kecenderungan seseorang, meski biasa-biasa saja, untuk menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian atau “bintang” (MDPI, The Role of Parenting Styles in Narcissism Development, 2025). Meskipun bukan gangguan mental, star syndrome dapat berujung pada gangguan kepribadian narsistik bila dibiarkan berkembang.
Penyebab Lingkungan dan Pola Asuh
Studi meta‑analisis dari Laub et al. (2025) menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu memuja atau sangat kompetitif meningkatkan risiko anak berkembang menjadi individu dengan perilaku self-enhancement berlebihan (MDPI, 2025). Anak yang dibesarkan dalam lingkungan individualistik dan sering dibandingkan cenderung menyerap sikap “aku selalu terbaik” (MDPI, 2025).
Tanda-Tanda Star Syndrome
Menurut dos Reis, Martins & Santos (2025) ini beberapa ciri yang umumnya muncul antara lain:
-
Percaya diri berlebihan tanpa dasar
-
Rasa unik dan berhak mendapat perlakuan istimewa
-
Sering membanggakan diri dan sulit menerima kritik
-
Sering iri dan memanipulasi demi keuntungan sendiri
-
Fantasi sukses, kuasa, dan haus pujian
Risiko terhadap Hubungan Sosial
Perilaku ini berpotensi merusak relasi—keluarga, persahabatan, hingga lingkungan kerja—karena cenderung mengabaikan kebutuhan orang lain dan bersikap sombong (MDPI, 2025).
Strategi Mengatasi Star Syndrome
-
Dukungan Tokoh Terdekat
Kehadiran keluarga atau teman yang memberi masukan konstruktif bisa membantu individu menyadari perilakunya (MDPI, 2025). -
Psikoterapi
Pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT) efektif mengubah pola pikir “aku pusat dunia” menjadi lebih realistis (Verywell Mind, 2023). -
Penguatan Pola Hidup Sehat
Aktivitas menenangkan seperti yoga dan meditasi terbukti membantu menyeimbangkan kebutuhan akan perhatian (Verywell Mind, 2023). -
Obat Bila Diperlukan
Jika muncul komorbid seperti depresi atau kecemasan, psikolog atau psikiater bisa merekomendasikan obat sesuai diagnosis (MDPI, 2025).
Mindfulness Bantu Sadarkan Diri
Star syndrome adalah kondisi di mana seseorang terasa seperti bintang tanpa alasan objektif, namun tidak selalu dikategorikan sebagai gangguan mental. Didorong oleh pola asuh kompetitif dan lingkungan yang menuntut keunggulan, kondisi ini bisa berkembang menjadi kepribadian narsistik bila tak ditangani (MDPI, 2025). Melalui dukungan sosial, psikoterapi, dan gaya hidup seimbang—terutama mindfulness—individu dapat menyadari kembali posisi dirinya dalam hubungan dan menumbuhkan sikap empati. Dengan pendekatan tepat, “bintang” ini bisa meredupkan ego dan memancarkan kualitas diri yang lebih rahmat, bukan sekadar gemerlap kosong.
