Mojokerto – Malam Ramadan di Dusun Grogol, Desa Kepuhpandak, terasa lebih hidup dari biasanya. Di tengah heningnya malam, lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema dari musala setempat, dibacakan oleh anak-anak yang dengan penuh semangat mengikuti kegiatan tadarus usai salat tarawih.
Kegiatan ini berlangsung di Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, dan rutin digelar setiap malam selama bulan Ramadan. Sekitar lima hingga sepuluh anak tampak duduk berjejer sambil memegang Al-Qur’an, membaca secara bergantian. Suasana khusyuk terlihat ketika mereka melafalkan ayat demi ayat, didampingi oleh warga dewasa yang membantu membenarkan bacaan.
Pengurus musala, Suparli Fadli (52), mengungkapkan bahwa jumlah peserta tadarus tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan Ramadan sebelumnya. Ia menilai antusiasme anak-anak menjadi tanda positif bagi perkembangan kegiatan keagamaan di lingkungan tersebut.
“Ramadhan tahun ini anak-anak yang ikut tadarus cukup banyak. Setelah salat tarawih mereka datang ke musala untuk membaca Al-Qur’an bersama,” ujarnya saat ditemui, Rabu (11/3/2026).
Menurut Suparli, kegiatan tadarus tidak hanya menjadi bagian dari ibadah Ramadan, tetapi juga berfungsi sebagai sarana pembelajaran bagi anak-anak. Dengan rutin membaca Al-Qur’an, mereka diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca sekaligus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak usia dini.
Pendampingan dari warga dewasa juga menjadi faktor penting dalam kegiatan ini. Anak-anak yang masih belajar membaca Al-Qur’an mendapatkan bimbingan secara langsung, sehingga kesalahan dalam pelafalan dapat segera diperbaiki. Hal ini menciptakan suasana belajar yang interaktif dan penuh kebersamaan.
Salah satu peserta tadarus, Ilmi (13), mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa lebih semangat karena bisa belajar bersama teman-temannya di lingkungan musala.
“Saya senang ikut tadarus di musala karena bisa belajar membaca Al-Qur’an bersama teman-teman,” katanya.
Kegiatan ini juga menjadi alternatif positif bagi anak-anak dalam mengisi waktu malam selama Ramadan. Alih-alih menghabiskan waktu dengan aktivitas lain, mereka memilih berkumpul di musala untuk memperdalam ilmu agama. Selain mempererat pertemanan, kegiatan ini juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
Suparli berharap tradisi tadarus ini dapat terus dipertahankan bahkan setelah Ramadan berakhir. Ia ingin semakin banyak anak-anak yang terlibat dalam kegiatan keagamaan, sehingga musala tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan generasi muda di desa.
Dengan meningkatnya partisipasi anak-anak, suasana Ramadan di Kepuhpandak menjadi lebih bermakna. Lantunan ayat suci yang terdengar setiap malam bukan hanya mencerminkan ibadah, tetapi juga harapan akan tumbuhnya generasi yang religius dan berakhlak baik di masa depan.
