Jakarta – Pembagian dividen sebesar Rp13,95 triliun oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) bukan sekadar angka di atas kertas. Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan bahwa angka itu adalah bentuk kontribusi nyata perusahaan pelat merah kepada perekonomian nasional yang tengah mengupayakan ketahanan dan keberlanjutan.
Dalam keterangan resminya pada Jumat (23/5/2025), Erick menyampaikan bahwa dividen yang dibagikan BNI mencerminkan penghargaan kepada pemegang saham atas kepercayaan yang telah diberikan, sekaligus bukti keberhasilan transformasi dan efisiensi dalam tata kelola perusahaan. Dari total laba bersih tahun buku 2024 yang mencapai Rp21,5 triliun, sekitar 65 persen dialokasikan untuk dividen.
“Ini adalah keseimbangan yang sehat antara reward bagi pemegang saham dan kebutuhan penguatan modal untuk keberlanjutan bisnis,” ujar Erick Thohir.
Ia menambahkan bahwa kinerja positif BNI merupakan hasil dari strategi bisnis yang efektif dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Tak hanya memberikan dividen besar, bank pelat merah ini juga mencatat pertumbuhan kredit sebesar 10,1 persen secara tahunan, menembus angka Rp765,47 triliun per Maret 2025, utamanya dari segmen korporasi yang tumbuh 16 persen.
Rasio kredit bermasalah (NPL) BNI juga terjaga di level 2 persen, dengan Loan at Risk (LAR) menurun menjadi 10,9 persen dari 13,3 persen tahun sebelumnya. Kondisi ini membantu menurunkan beban pencadangan dan mendorong efisiensi biaya perusahaan.
“BNI telah menunjukkan tata kelola yang kuat dan inovasi berkelanjutan yang sangat dibutuhkan sektor perbankan nasional saat ini,” tambah Erick.
Pendapatan operasional BNI pada kuartal I 2025 tercatat tumbuh 2,8 persen menjadi Rp15,25 triliun, sedangkan laba bersih kuartal tersebut mencapai Rp5,4 triliun. Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 5 persen menjadi Rp819,6 triliun, dengan dominasi dana murah (CASA) yang naik 6,3 persen.
Pemerintah melalui Kementerian BUMN pun memberikan dukungan penuh terhadap langkah strategis BNI, termasuk inovasi digitalisasi guna memperkuat posisi sebagai bank global dari Indonesia. Erick menyebut keberhasilan ini sebagai contoh ideal transformasi BUMN yang berorientasi pada profit dan keberlanjutan.
Ke depan, BNI diharapkan terus menjaga momentum ini agar dapat memberi kontribusi lebih besar pada pertumbuhan ekonomi nasional serta daya saing sektor keuangan Indonesia di kancah global.
