Tanda ketaatan begitu nyata dalam ibadah qurban. Setiap tetesan darah yang mengalir bukan sekadar ritual, melainkan simbol kepasrahan total kepada Sang Pencipta. Dalam ajaran Islam, qurban bukan hanya penyembelihan hewan, tapi juga wujud kesetiaan dan pengorbanan yang hakiki dari seorang hamba kepada Tuhannya.
Sejarah qurban bermula dari kisah dua putra Nabi Adam AS, Habil dan Qabil, yang disebutkan dalam Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 27. Ketika keduanya mempersembahkan qurban, hanya qurban Habil yang diterima Allah SWT karena keikhlasannya. Kisah ini menjadi pelajaran bahwa diterimanya qurban bukan soal bentuk atau jumlah, tapi hati yang bertaqwa.
Kisah paling menggugah tentang qurban adalah kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Ismail AS. Ketika mimpi menyembelih sang anak datang sebagai perintah Ilahi, Ibrahim tak ragu. Ia bahkan bermusyawarah dengan Ismail, dan sang anak menjawab dengan penuh keyakinan, “Laksanakanlah, Ayah.” (QS As-Shaffat: 102).
“Tatkala keduanya telah berserah diri…” (QS As-Shaffat: 103), inilah puncak makna qurban: penyerahan total pada perintah Allah. Pada akhirnya, Ismail tidak jadi disembelih. Allah menggantinya dengan sembelihan yang besar sebagai bentuk kasih sayang dan ujian yang telah mereka lalui.
Menurut Buku Saku Fiqih Qurban (2022), qurban bukan tentang darah dan dagingnya yang sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan yang menjadi tujuannya. Dalam surah Al-Hajj ayat 37 ditegaskan: “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”
Hari ini, ibadah qurban menjadi sarana spiritual dan sosial. Di tengah umat yang masih mengalami kelaparan dan ketimpangan ekonomi, daging qurban adalah simbol berbagi kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda, “Makanlah, sedekahlah, dan simpanlah daging qurban.” (HR Bukhari)
Berqurban juga menjadi jalan pengampunan dosa. Dalam hadits disebutkan, “Wahai Fatimah, saksikanlah qurbanmu, karena pada setiap tetesan darahnya, Allah akan mengampuni dosa-dosamu.” (HR Hakim)
Ibadah qurban tidak berhenti di ritual tahunan, tapi harus menjadi cermin dalam hidup sehari-hari. Rela berkorban untuk keluarga, masyarakat, dan agama—itulah semangat yang harus dibawa sepanjang tahun.
