Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda sektor manufaktur belakangan ini menimbulkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi nasional. Data menunjukkan, sepanjang tahun 2024, angka PHK mencapai lebih dari 78.000 kasus, mencerminkan tantangan serius yang dihadapi industri manufaktur.
M. Rizal Taufiqurrahman, Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, menekankan perlunya langkah strategis dari pemerintah untuk mencegah eskalasi PHK. Ia menyarankan pemberian insentif kepada industri terdampak, mendorong diversifikasi produk untuk pasar domestik dan ekspor, serta memperkuat kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan profesional.
“Pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk mencegah eskalasi PHK, seperti memberikan insentif kepada industri terdampak, mendorong diversifikasi produk untuk pasar domestik dan ekspor, serta memperkuat kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan profesional,” ujar Rizal saat dihubungi di Jakarta, Senin (10/3/2025).
Rizal mencatat beberapa faktor utama penyebab PHK di industri manufaktur, antara lain kebangkrutan perusahaan, disrupsi bisnis, biaya produksi yang tidak efisien, dan penurunan permintaan pasar. Contoh nyata adalah PHK massal yang melibatkan lebih dari 10.000 pekerja, serta penutupan pabrik oleh Yamaha Music Products Asia yang merelokasi produksi ke negara lain.
Selain itu, beberapa sektor mengalami penurunan permintaan baik di pasar domestik maupun internasional, memaksa perusahaan mengurangi produksi dan jumlah tenaga kerja. Meskipun sektor manufaktur secara keseluruhan tumbuh positif, kondisi individual perusahaan dapat berbeda akibat faktor seperti perubahan pola konsumsi, persaingan global, hingga kebijakan perdagangan yang mempengaruhi biaya produksi dan kinerja ekspor.
Rizal mengingatkan bahwa pertumbuhan industri manufaktur secara keseluruhan tidak serta merta mencerminkan kesejahteraan tenaga kerja. Oleh karena itu, kebijakan industri harus lebih terfokus pada keberlanjutan tenaga kerja, bukan hanya pertumbuhan angka produksi semata. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pekerja untuk menciptakan ekosistem yang mendorong ekspansi industri sekaligus memastikan stabilitas ketenagakerjaan di dalamnya.
Dengan langkah-langkah strategis dan kolaboratif, diharapkan tantangan PHK di sektor manufaktur dapat diatasi, sehingga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan tenaga kerja tetap terjaga.
