Situbondo – Manajemen RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo, Jawa Timur, mencatat 19.862 pasien memanfaatkan Program Sehat Gratis (Sehati) berbasis KTP elektronik selama periode 2022 sampai dengan Agustus 2024.
Direktur RSUD dr Abdoer Rahem Situbondo, Roekmy Prabarini Ario. Ia menjelaskan Program Sehati besutan Bupati Situbondo bahwa masyarakat kurang mampu dan bagi yang tidak tercover pada Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sangat merasakan manfaatnya.
“Alhamdulillah, Program Sehat Gratis berbasis KTP elektronik ini sangat bermanfaat bagi masyarakat miskin, sehingga banyak masyarakat menggunakan program layanan kesehatan gratis tersebut,” ujar Ario di Situbondo Pada Kamis (12/8/2024).
19.862 Penerima Manfaat Program Sehati
Selain itu, Roekmy menyebutkan pada tahun 2022 pasien pengguna Program Sehati. Program ini bermanfaat untuk membiayai rawat inap tercatat sebanyak 2.558 orang dan rawat jalan 3.761 orang.
Kemudian, pada 2023 pasien rawat jalan pengguna Program Sehati 3.293 orang. Sementara itu,rawat inap sebanyak 5.889 orang, pada 2024. Kemudian, sampai dengan Agustus 2024 untuk rawat inap 1.578 orang dan rawat jalan 2.783 orang.
“Jadi total masyarakat memanfaatkan Program Sehati dari 2022 sampai Agustus 2024. Baik untuk rawat inap dan rawat jalan di RSUD dr Abdoer Rahem mencapai 19.862 orang,” tambah Roekmy.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Situbondo menyebutkan sejak 2021 sampai dengan Juli 2024 tercatat sekitar 44 ribu pasien menggunakan Program Sehati.
Banyak Layanan Yang Tak Terbiayai BPJS Kesehatan
Pemkab Situbondo mempertahankan Program Sehati karena masyarakat sangat membutuhkan hal tersebut. Selain itu ada layanan yang tidak bisa BPJS Kesehatan biayai.
Tapi, hanya bisa tertangani oleh Program Sehati, seperti Kejadian Luar Biasa (KLB), percobaan bunuh diri, kecelakaan tunggal, dan layanan lainnya.
Layanan kesehatan gratis berbasis KTP elektronik merupakan salah satu program prioritas Bupati Situbondo Karna Suswandi dan Wakil Bupati Khoirani.
Selain itu, Program Sehati efektif dalam memberikan layanan kesehatan bagi masyarakat miskin. Banyak hal yang belum tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS).
Terakhir, Program tersebut hadir untuk memangkas persyaratan yang terlalu birokratis. Hal ini berarti memudahkan masyarakat miskin mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, rawat inap maupun rawat jalan.
