Jember – Dari kandang sapi, roda ekonomi kecil di Desa Rowoindah, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, ikut berputar. Riezda Indo Dairy bukan hanya menghasilkan ratusan liter susu segar setiap hari, tetapi juga mulai menjadi ruang kerja baru bagi warga sekitar, terutama kalangan pemuda yang baru menyelesaikan pendidikan SMA.
Peternakan yang telah beroperasi sekitar satu tahun tersebut saat ini mengelola sekitar 30 ekor sapi perah. Dari puluhan ternak itu, produksi susu segar mencapai kurang lebih 200 liter per hari. Aktivitas pemeliharaan hingga pemerahan dilakukan secara teratur agar kualitas dan produktivitas susu tetap terjaga.
Sapi yang dikembangkan Riezda Indo Dairy didominasi jenis Friesian Holstein (FH) dan Red Holstein. Kedua ras tersebut banyak dikenal dalam usaha sapi perah karena mempunyai kemampuan produksi susu yang cukup tinggi. Untuk menunjang kondisi ternak, pengelola memberikan sejumlah jenis pakan, mulai dari konsentrat, jagung segar, rumput gajah atau pakchong, hingga silase jagung.
Proses pemerahan dilakukan dua kali setiap hari, yakni pada pagi dan sore. Susu yang sudah diperah kemudian ditangani secara higienis sebelum melalui proses pengemasan, penyimpanan, maupun pengiriman kepada konsumen. Pola tersebut diterapkan sebagai bagian dari upaya menjaga mutu susu sejak keluar dari kandang hingga sampai ke pelanggan.
Namun, aktivitas Riezda Indo Dairy tidak berhenti pada produksi susu. Keberadaan peternakan itu juga mulai menciptakan peluang kerja bagi masyarakat Desa Rowoindah. Sekitar 10 warga lokal kini terlibat dalam berbagai bagian pekerjaan, termasuk sejumlah pemuda yang baru lulus SMA.
Sebelum mulai bekerja, para pemuda terlebih dahulu dibekali pelatihan mengenai pengelolaan sapi perah dan tugas yang akan mereka jalankan. Langkah tersebut dilakukan agar pekerja memahami prosedur kerja sekaligus mempunyai keterampilan baru di bidang peternakan.
“Beberapa pemuda sekitar yang baru lulus SMA kita beri pelatihan terlebih dahulu. Setelah itu mereka ditempatkan sesuai bagian pekerjaan, ada yang di perawatan dan pemerahan, produksi, serta pengiriman,” ujar Pengawas Riezda Indo Dairy, Rahmat.
Menurut Rahmat, sistem pelatihan menjadi bagian penting karena perusahaan tidak sekadar menawarkan pekerjaan. Para pemuda juga diharapkan memperoleh kemampuan praktis yang bisa menjadi modal bagi mereka untuk berkembang pada masa mendatang, khususnya dalam bidang peternakan sapi perah dan pengolahan hasil ternak.
Dampak ekonomi dari peternakan tersebut juga mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil yang berada di sekitar lokasi. Kehadiran sekitar 10 pekerja setiap hari menambah kebutuhan konsumsi, terutama makanan dan minuman. Kondisi itu memberikan peluang tambahan bagi warung maupun pedagang yang beroperasi tidak jauh dari area peternakan.
“Untuk kebutuhan makan dan minum harian pegawai, kami juga melibatkan warung makan dan stand bakso yang ada di depan peternakan. Jadi, bukan hanya pekerja yang mendapatkan manfaat, pedagang sekitar juga ikut mendapat tambahan pemasukan,” katanya.
Keterlibatan pedagang lokal tersebut membuat aktivitas peternakan memiliki efek berantai terhadap perekonomian lingkungan sekitar. Meski dalam skala terbatas, transaksi harian antara pekerja dengan pelaku usaha kecil ikut menciptakan tambahan perputaran uang di Desa Rowoindah.
“Memang sederhana, tetapi aktivitas peternakan ini ikut membuat ekonomi di sekitar bergerak. Pemuda bisa bekerja, sementara pedagang di sekitar juga mendapat tambahan pembeli,” ujarnya.
Dengan kapasitas produksi sekitar 200 liter susu segar setiap hari, Riezda Indo Dairy kini menjadi salah satu usaha peternakan yang tumbuh di tengah masyarakat Rowoindah. Selain berupaya memenuhi kebutuhan konsumen terhadap susu segar, peternakan tersebut turut menghadirkan peluang ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan keterlibatan usaha kecil di sekitarnya.
Perjalanan sekitar satu tahun menunjukkan bahwa peternakan sapi perah dapat membawa manfaat lebih luas ketika terhubung dengan masyarakat sekitar. Dari 30 ekor sapi yang dipelihara, bukan hanya susu yang dihasilkan setiap hari, tetapi juga keterampilan bagi pemuda, pekerjaan bagi warga, serta tambahan pelanggan bagi pedagang lokal.
