Yogyakarta – Seperti benang kusut yang tak kunjung terurai, angka kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi (unmet need) di Yogyakarta melonjak hingga 17,80 persen pada 2024. Fakta ini menjadi temuan penting dalam praktik lapangan mahasiswa Magister Kebidanan Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta yang melakukan studi di Kelurahan Purbayan, Kotagede.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa banyak pasangan usia subur (PUS) di wilayah tersebut menolak penggunaan kontrasepsi modern, meskipun tidak menginginkan kehamilan dalam waktu dekat.
“Suntik buat saya jadi gendut, telat haid dan jadi gak enak di badan. Sejak itu saya takut KB lagi,” ujar salah satu informan perempuan kepada tim peneliti.
Penolakan KB modern ini umumnya dilandasi oleh trauma akibat efek samping penggunaan sebelumnya, serta rendahnya pemahaman terhadap jenis dan cara kerja kontrasepsi. Tak sedikit perempuan lebih memilih metode alami seperti kalender menstruasi, yang dianggap lebih aman dan nyaman.
“Saya dari sebelum menikah menggunakan aplikasi kalender menstruasi, hingga saat ini saya nyaman pakai metode kalender,” ungkap responden lain.
Peran suami juga menjadi salah satu faktor penentu. Sebagian memang memberikan dukungan, namun tidak sedikit yang justru melarang penggunaan KB hormonal karena alasan kesehatan, atau terpengaruh mitos yang berkembang di lingkungan sosial.
“Diskusi KB masih tabu di kalangan laki-laki,” aku salah satu suami responden.
Menurut Fitri, mahasiswa S2 Kebidanan Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta, ada empat akar persoalan utama dalam tingginya angka unmet need di Kotagede, yaitu:
- Efek samping kontrasepsi modern
- Minimnya edukasi personal dari bidan atau petugas kesehatan
- Kuatnya pengaruh mitos dan informasi keliru dari lingkungan sekitar
- Rendahnya keterlibatan suami dan keluarga dalam pengambilan keputusan
Padahal, program KB yang direncanakan dengan baik dapat membantu mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan meningkatkan kualitas hidup keluarga.
Sebagai solusi, tim mahasiswa merekomendasikan pendekatan berbasis pemberdayaan masyarakat, seperti:
- Edukasi langsung dari bidan atau kader kepada individu dan pasangan
- Konseling bersama pasangan suami istri dan keluarga, bukan hanya ibu
- Penyuluhan tatap muka di luar media sosial
- Pelibatan tokoh agama dan adat untuk menyampaikan pesan KB
Pendekatan berbasis nilai lokal dinilai efektif karena menyentuh sisi emosional dan kepercayaan masyarakat. Dalam Islam, misalnya, prinsip hifz al-nafs (perlindungan jiwa) sejalan dengan perencanaan keluarga. Ajaran Katolik pun mendukung KB melalui nilai partisipasi dan keadilan sosial.
“Unmet need bukan hanya soal akses alat kontrasepsi, tapi juga soal persepsi, dukungan pasangan, dan kualitas komunikasi,” tegas tim peneliti mahasiswa.
Upaya menurunkan angka unmet need dinilai perlu melibatkan kerja sama lintas sektor dengan pendekatan yang menyentuh aspek sosial, budaya, dan spiritual masyarakat secara utuh.
