Kehidupan rakyat kecil di masa kolonial penuh kesulitan. Buruh bekerja panjang dengan upah rendah, petani kehilangan tanah, sementara kaum feodal malah bersekutu dengan penguasa kolonial. Gambaran inilah yang digoreskan Tan Malaka dalam bukunya Aksi Massa. Baginya, kondisi seperti ini adalah bahan bakar yang suatu saat akan meledak menjadi revolusi.
Belajar dari Revolusi Dunia
Tan Malaka bukan hanya melihat Indonesia. Ia belajar dari sejarah dunia. Dari Revolusi Rusia 1917, ia menemukan bukti bahwa buruh bisa menggulingkan rezim lama. Dari Revolusi Amerika, ia melihat bahwa bangsa kecil pun mampu merdeka setelah perjuangan panjang.
Dua peristiwa itu memberinya keyakinan: Indonesia pun bisa merdeka, asal berani menempuh jalan revolusi. Ia bahkan menegaskan, tanpa revolusi, bangsa hanya akan jadi “budak abadi”.
Revolusi Menurut Tan Malaka
Yang menarik, Tan Malaka tidak memandang revolusi semata-mata sebagai kehancuran. Ia menulis bahwa revolusi justru masa ketika moral, pikiran, dan kreativitas rakyat mencapai puncaknya.
“Revolusi adalah penciptaan, bukan sekadar penghancuran,” tulisnya.
Artinya, revolusi adalah proses melahirkan masyarakat baru. Setelah belenggu kolonial dan feodal dihancurkan, bangsa bisa membangun tatanan yang lebih adil: tanah untuk petani, hak layak untuk buruh, serta hilangnya kesenjangan sosial yang tajam.
Berbeda dari Soekarno dan Hatta
Di antara tokoh pergerakan, Tan Malaka punya jalan sendiri. Soekarno lewat Marhaenisme menekankan persatuan rakyat, sementara Hatta percaya pada kekuatan koperasi untuk membangun ekonomi rakyat.
Tan Malaka lebih radikal. Ia menolak kompromi dengan penjajah, bahkan juga berbeda pandangan dengan partai-partai besar pada masanya. Baginya, revolusi massa adalah satu-satunya jalan menuju kemerdekaan sejati.
Masih Relevan Hari Ini?
Sekilas, gagasan revolusi terdengar jauh dari kehidupan kita sekarang. Indonesia sudah merdeka, kita hidup di era demokrasi, dan perjuangan bersenjata bukan lagi pilihan. Tapi kalau kita melihat lebih dekat, banyak masalah yang dilukiskan Tan masih ada.
Jurang kaya–miskin masih lebar. Buruh masih berjuang untuk upah layak. Petani sering kehilangan tanah. Bedanya, kini perjuangan bisa dilakukan lewat jalur demokrasi: kebijakan publik, gerakan sosial, hingga pendidikan politik.
Semangat Tan Malaka tetap relevan. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar lepas dari penjajahan, tapi juga bebas dari penindasan sosial dan ekonomi.
Revolusi Sejati
Lewat Revolusi dalam buku Aksi Massa, Tan Malaka mengajarkan bahwa revolusi sejati bukanlah amarah tanpa arah. Revolusi adalah keberanian untuk mencipta sistem baru yang lebih adil. Ia memadukan teori besar dari Marx dan Lenin dengan kenyataan rakyat Indonesia yang terjajah.
Kini, kita mungkin tak lagi bicara soal revolusi bersenjata. Tapi pesan Tan Malaka tetap hidup: jangan pernah puas sebelum keadilan benar-benar dirasakan oleh semua.
