“Saya pastinya sangat mendukung adanya rute kapal dari Bontang-Mamuju, yang dimana sampai saat ini belum juga terlaksana,” ungkapnya.
“Jalanan di sana itu masih banyak yang bolong-bolong apalagi di area panggung. Padahal kami sudah melakukan sidak tapi nyatanya tidak ada hasil lantaran hingga saat ini belum ada perbaikan,” ungkapnya beberapa waktu lalu.
“Bagaimana mau dapat SLO kalau persoalan limbah masih belum ditindaklanjuti. Yang terganggu bukan hanya pengunjung. Melainkan warga juga. Kami kecolongan terhadap pengawasan ini,” ungkapnya.
“Bagaimana mau dapat SLO kalau persoalan limbah masih belum ditindaklanjuti. Yang terganggu bukan hanya pengunjung, melainkan warga juga. Kami kecolongan terhadap pengawasan ini,” ujar Amir.
Terminal Bontang ini sudah lama dinanti-nantikan masyarakat, sehingga pembangunan ulang itu sangat diperlukan.
Prioritas iinfrastruktur pejalan kaki tertuang dalam Perda Nomor 13 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bontang, itu mengatur pengembangan sistem infrastruktur perkotaan terkait jaringan pejalan kaki.
Amir Tosina menjelaskan bahwa dinding turap berbatasan dengan sungai mengalami perubahan posisi, terjadi pengikisan tanah di kawasan itu.
Yulianti mengadu ke DPRD Bontang karena merasa terganggu dengan plang bertuliskan lahan diambil alih oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Diketahui plang tersebut berada di lokasi lahan miliknya yang berbatasan langsung dengan lahan PT Badak LNG.
Musim hujan ini mengakibatkan air tinggi memadati pemukiman warga di beberapa titik wilayah dan terjadi banjir di kawasan Jalan Soekarno Hatta Kelurahan Telihan, Gang Aren Kelurahan Api-Api, Jalan Imam Bonjol dan Jalan Brokoli Kelurahan Kanaan, Rabu (3/3/2021).
Titik yang dianggap rawan banjir ternyata tidak ada perhatian sama sekali, kata Amir Tosina saat dihubungi melalui saluran telepon, Rabu (3/3/2021).