Bondowoso – Upaya menjaga kesinambungan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dilakukan di berbagai daerah. Di Kecamatan Sukosari, Kabupaten Bondowoso, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukosari Lor memilih menerapkan sistem pendistribusian rapel. Melalui skema ini, menu MBG untuk hari Sabtu dibagikan lebih awal bersamaan dengan menu hari Jumat, sebagai langkah adaptif agar pelayanan gizi bagi peserta didik tetap berjalan optimal.
Kebijakan tersebut mulai diterapkan pada Jumat (30/1/2026). Dalam praktiknya, SPPG Sukosari Lor membagikan dua jenis menu sekaligus dalam satu hari. Menu untuk hari Jumat tetap disajikan dalam bentuk menu basah yang siap santap, sementara menu hari Sabtu diberikan dalam bentuk menu kering yang memiliki daya simpan lebih lama. Skema ini dinilai mampu menjaga kualitas makanan tanpa mengurangi nilai gizi yang dibutuhkan anak-anak sekolah.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan kebijakan nasional pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi anak sekolah, menekan angka stunting, serta mendukung kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Dalam implementasinya, pemerintah memberikan ruang bagi satuan pelayanan di daerah untuk menyesuaikan mekanisme distribusi, selama tetap berpedoman pada standar gizi dan keamanan pangan.
Kepala SPPG Sukosari Lor, Muhammad Ferdo Syaifullah, menjelaskan bahwa sistem rapel dipilih sebagai solusi untuk menjaga efektivitas distribusi sekaligus memastikan peserta didik tetap menerima asupan gizi secara berkelanjutan.
“Menu hari Jumat tetap menu basah dengan masakan khas dapur kami, sedangkan menu hari Sabtu diberikan dalam bentuk menu kering,” ujar Ferdo saat ditemui di sela pendistribusian MBG.
Ia menambahkan, menu kering dipilih dengan mempertimbangkan daya tahan makanan serta kandungan gizi yang tetap seimbang. Dengan demikian, meskipun dikonsumsi keesokan harinya, kualitas makanan tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi oleh siswa.
Ferdo juga menyampaikan bahwa kebijakan pendistribusian rapel tersebut telah disosialisasikan kepada seluruh sekolah penerima manfaat di wilayah Sukosari Lor. Pihak sekolah diminta meneruskan informasi tersebut kepada para siswa dan wali murid agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam pelaksanaan program.
Menurutnya, komunikasi yang baik antara SPPG, sekolah, dan orang tua siswa menjadi kunci keberhasilan program MBG di lapangan. Dengan pemahaman yang sama, pendistribusian makanan dapat berjalan tertib, tepat sasaran, dan sesuai dengan tujuan utama program nasional tersebut.
Selain menjaga keberlanjutan layanan, sistem rapel ini juga dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja dapur dan distribusi, terutama menjelang akhir pekan. Langkah ini sekaligus menjadi contoh fleksibilitas pelaksanaan kebijakan nasional di tingkat daerah, tanpa mengabaikan prinsip utama pemenuhan gizi anak.
SPPG Sukosari Lor berharap, melalui penyesuaian mekanisme ini, Program Makan Bergizi Gratis dapat terus dirasakan manfaatnya oleh peserta didik. Dengan asupan gizi yang terjaga, diharapkan tumbuh generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap berkontribusi bagi masa depan daerah maupun nasional.
