Karst Sangkulirang, Mangkalihat membentang megah di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan Berau, Kalimantan Timur. Luasnya mencapai lebih dari 1,8 juta hektare dengan inti kawasan karst sekitar 362.706 hektare. Kawasan ini menjadi saksi bisu evolusi bumi tropis dan sejarah budaya manusia purba yang menakjubkan.
Bentang alam karst ini sangat beragam, mulai dari turmkarst (bukit kapur kerucut), kegelkarst (karst bergua dalam), hingga labirin batuan kapur yang memukau. Semua itu terbentuk oleh aktivitas geologi dan patahan tektonik besar seperti Mangkalihat Fault. Beberapa titik bahkan memiliki elevasi setinggi 300 meter, menciptakan panorama pegunungan kapur dramatis yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Nilai budaya kawasan ini tak kalah memikat. Lebih dari 35 gua yang tersebar di tujuh blok karst menyimpan lukisan prasejarah berusia puluhan ribu tahun. Salah satu yang paling monumental adalah Gua Lubang Jeriji Saléh—tempat ditemukannya seni figuratif tertua di dunia berupa gambar hewan yang diperkirakan berumur 40.000 tahun. Lukisan tangan, binatang, hingga jejak kehidupan masa lampau menjadi bukti kuat peradaban manusia awal di Asia Tenggara.
Selain nilai sejarah dan geologinya, Karst Sangkulirang–Mangkalihat juga menyimpan kekayaan hayati luar biasa. Ekspedisi ilmiah mencatat ratusan spesies flora, burung, serangga, dan ikan yang hidup di hutan dan sungai di sekitarnya. Kawasan ini juga menjadi rumah bagi orangutan Kalimantan dan sumber air penting untuk lima sungai utama di Kalimantan Timur dan Berau. Keberadaan ekosistem karst ini memainkan peran besar dalam keseimbangan lingkungan.
Kini, banyak titik dalam kawasan karst ini mulai dikenali sebagai geosite wisata edukatif seperti Gua Bloyot, Gua Tewet, dan Danau Nyadeng. Pengunjung bisa menjelajahi gua, melakukan trekking alam, hingga belajar geologi langsung di lapangan. Kawasan ini juga telah diajukan sebagai calon geopark UNESCO karena nilai-nilai luar biasa yang dimilikinya.
Meski demikian, tantangan konservasi masih besar. Ancaman datang dari eksploitasi tambang, degradasi lingkungan, hingga perambahan liar. Upaya perlindungan telah dilakukan lewat regulasi daerah, namun pelestariannya sangat bergantung pada kerja sama antara pemerintah, ilmuwan, dan masyarakat lokal. Pengelolaan berbasis ekowisata dan edukasi menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini.
Karst Sangkulirang–Mangkalihat bukan hanya gugusan batuan kuno, tapi juga warisan manusia dan alam yang mendalam. Dengan keindahan geologi, keanekaragaman hayati, serta jejak budaya tertua di dunia, kawasan ini layak menjadi destinasi edukasi global dan kebanggaan Kalimantan Timur.
