Mojokerto – Tradisi dan kebersamaan berpadu dalam balutan syukur saat Pemerintah Desa Kupang, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, menggelar Ruwah Desa atau Sedekah Bumi pada 10–11 Februari 2026. Perhelatan tahunan ini berlangsung semarak dengan rangkaian kegiatan spiritual dan budaya yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Kegiatan dimulai pada Selasa (10/2/2026) dengan khotmil Qur’an serentak di seluruh masjid desa sejak pukul 05.00 WIB. Warga bersama tokoh agama menuntaskan bacaan Al-Qur’an sebagai doa kolektif demi keselamatan dan kesejahteraan desa. Momentum ini menjadi simbol persatuan spiritual masyarakat Desa Kupang dalam menyambut tradisi Ruwah Desa.
Usai agenda keagamaan, masyarakat melaksanakan ziarah ke dua makam leluhur pada pukul 08.00 WIB. Ziarah tersebut bukan sekadar ritual turun-temurun, melainkan bentuk penghormatan atas jasa para pendahulu yang telah merintis dan membangun fondasi Desa Kupang hingga berkembang seperti saat ini. Tradisi ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai sejarah dan akar budaya desa.
Rangkaian acara berlanjut pada Rabu (11/2/2026) dengan kirab gunungan sebagai agenda utama. Gunungan yang berisi hasil pertanian lokal diarak dari Balai Desa menuju lapangan utama desa. Arak-arakan berlangsung meriah dengan iringan kendang serta pertunjukan tari rakyat yang mencerminkan kekayaan seni tradisional setempat. Gunungan tersebut melambangkan limpahan rezeki sekaligus wujud syukur atas hasil bumi yang diperoleh warga.
Doa bersama digelar pada pukul 11.30 WIB yang dipimpin Ketua Majelis Taklim. Suasana khidmat menyelimuti lapangan desa saat warga memanjatkan harapan agar Desa Kupang senantiasa diberi keberkahan. Setelah itu, hasil bumi dibagikan kepada masyarakat sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan yang telah mengakar kuat dalam kehidupan sosial warga.
Sebagai penutup, pertunjukan Ludruk “Budhi Wijaya” digelar pada malam harinya. Kesenian tradisional khas Jawa Timur ini menghadirkan hiburan rakyat yang sarat pesan moral dan nilai kehidupan. Pementasan tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang edukasi budaya lintas generasi agar kesenian daerah tetap lestari.
Kepala Desa Kupang, Andridi, SH, menegaskan bahwa kekuatan utama desa terletak pada persatuan warganya. Ia berharap Ruwah Desa menjadi momentum mempererat solidaritas sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat.
“Mari kita jaga kebersamaan ini demi masa depan Desa Kupang yang lebih makmur,” ujarnya.
Dengan persiapan matang yang dilakukan panitia dan dukungan penuh masyarakat, Pemerintah Desa Kupang optimistis seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar serta membawa manfaat luas. Ruwah Desa bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga cerminan harmoni antara spiritualitas, budaya, dan semangat gotong royong yang terus hidup di tengah masyarakat.
