Jakarta – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian global, nilai tukar rupiah justru menunjukkan performa positif pada awal perdagangan hari ini. Rupiah tercatat menguat sebesar 45 poin atau 0,27 persen, dibuka di level Rp16.582 per dolar AS, menguat dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp16.627 per dolar AS.
Penguatan ini menjadi angin segar bagi pelaku pasar yang selama beberapa pekan terakhir dibayangi oleh sentimen negatif global, termasuk isu suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik. Berdasarkan data dari pasar spot Jakarta, rupiah memulai perdagangan Rabu (14/5/2025) dengan kinerja lebih baik dari mata uang regional lainnya.
“Ini sinyal positif bahwa pelaku pasar mulai melihat stabilitas dari indikator ekonomi domestik,” ujar Lukman Leong, analis mata uang dari PT TRFX Garuda Berjangka.
Menurut Lukman, penguatan rupiah didorong oleh surplus neraca perdagangan yang masih konsisten serta ekspektasi inflasi dalam negeri yang mulai terkendali. Selain itu, langkah Bank Indonesia yang tetap mempertahankan suku bunga acuan juga dianggap memberikan kepastian kepada investor asing.
Pelaku pasar juga mencermati pernyataan beberapa pejabat tinggi moneter yang menyebutkan bahwa arus masuk investasi portofolio masih cukup deras ke pasar obligasi Indonesia. Hal ini membantu menstabilkan nilai tukar dan mendongkrak optimisme terhadap rupiah.
Sementara itu, analis lain menyebutkan bahwa volatilitas nilai tukar masih mungkin terjadi mengingat arah kebijakan moneter global yang belum sepenuhnya jelas. Namun, dengan kondisi makroekonomi yang relatif terjaga, rupiah dinilai memiliki ruang untuk terus menguat dalam jangka pendek.
“Rupiah bisa bertahan selama sentimen eksternal tidak memburuk secara drastis dan pemerintah tetap menjaga konsistensi fiskal,” kata Reza Priyambada, pengamat pasar keuangan.
Dengan penguatan yang terjadi pagi ini, pelaku pasar berharap tren ini bisa berlanjut dan memberikan stabilitas terhadap harga-harga barang impor, serta menambah daya tarik pasar keuangan domestik.
