Bondowoso – Asap hitam membumbung tinggi di depan Gedung DPRD Bondowoso, Minggu (31/8/2025), ketika ratusan massa yang menamakan diri Bondowoso Bersatu meluapkan kemarahan. Dengan membakar ban dan berorasi lantang, mereka mengepung gedung dewan sebagai simbol protes atas kebijakan kenaikan tunjangan anggota DPR yang dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.
Aksi ini dipicu oleh tragedi yang menelan korban jiwa di tengah masyarakat, diperparah dengan kabar kenaikan tunjangan dewan yang dinilai ironis saat kondisi ekonomi warga semakin sulit. Massa tidak hanya berorasi, tetapi juga berusaha masuk ke dalam gedung dewan. Upaya itu mendapat perlawanan dari aparat kepolisian yang membuat pagar betis. Dorong-dorongan pun tak terelakkan, meski ketegangan akhirnya mereda setelah dilakukan negosiasi.
Dalam audiensi terbuka, massa menyampaikan tuntutan langsung kepada Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, beserta sejumlah anggota dewan lintas fraksi. Suasana semakin panas ketika orator dari mahasiswa, Ikrom, meneriakkan ketidakadilan yang dirasakan rakyat.
“Tunjangan anggota DPR tidak pantas dinaikkan. Kerja mereka tidak sebanding dengan fasilitas yang diterima. Sementara rakyat masih banyak yang susah. Sepakat?” teriak Ikrom, disambut sorakan setuju dari ratusan pengunjuk rasa.
Selain menolak kenaikan tunjangan, massa juga mendesak agar Undang-Undang Perampasan Aset segera disahkan oleh DPR RI. Mereka menilai regulasi itu penting untuk memberantas korupsi dan mengembalikan aset negara yang dirampas oleh pejabat nakal.
Menanggapi tuntutan itu, Ketua DPRD Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyatakan dukungannya.
“Kami sangat setuju dengan aspirasi teman-teman mahasiswa dan masyarakat. Tapi kewenangan ada di DPR pusat. Jika perlu, saya siap berangkat ke Jakarta untuk menyuarakan tuntutan ini,” tegasnya di hadapan massa.
Meski begitu, janji tersebut belum sepenuhnya meredakan kekecewaan publik. Para pengunjuk rasa bertekad akan terus mengawal tuntutan agar benar-benar sampai ke Senayan, bukan hanya berhenti di meja DPRD kabupaten.
Demonstrasi yang berlangsung hampir lima jam ini menjadi bukti nyata meningkatnya ketidakpercayaan rakyat terhadap elit politik lokal. Di Bondowoso, suara perlawanan telah terdengar lantang, menegaskan bahwa rakyat tidak akan tinggal diam ketika kepentingan mereka diabaikan.
