Kutim – Di tengah tantangan menurunnya angka fertilitas dan meningkatnya tekanan terhadap keseimbangan kerja dan keluarga, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN meluncurkan program nasional Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Selasa (27/5/2025). Peluncuran dilakukan serentak di seluruh Indonesia, salah satunya di Tempat Penitipan Anak (TPA) Tunas Harapan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSN), Kabupaten Kutai Timur.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji, menegaskan bahwa TAMASYA merupakan solusi atas rendahnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan, sekaligus langkah strategis dalam menghadapi tantangan bonus demografi. “Harapan saya, perusahaan yang pekerjanya banyak perempuan dan punya anak bisa tetap bekerja. Banyak perempuan keluar kerja setelah menikah dan melahirkan, ini turunkan produktivitas,” ujarnya saat peluncuran.
TAMASYA bertujuan menjamin keseimbangan hak dan kebutuhan ibu dan anak dalam fase krusial seribu hari pertama kehidupan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024. Dengan menyediakan layanan penitipan anak yang terjangkau dan berkualitas, pemerintah ingin memastikan pekerja perempuan tetap produktif tanpa meninggalkan peran domestiknya.
Program ini melibatkan enam kementerian lintas sektor dan diperkuat oleh Surat Edaran Bersama tentang pembentukan dan penyelenggaraan TPA di lingkungan kementerian, daerah, BUMN, hingga swasta. Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, menegaskan, “Kami yakin TAMASYA akan berdampak positif bagi produktivitas pekerja perempuan. Mereka akan lebih tenang dan fokus dalam bekerja.”
Pemilihan PT DSN sebagai lokasi peluncuran tak lepas dari komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan pekerja. Tercatat, terdapat 91 TPA di bawah pengelolaan perusahaan dengan 1.860 anak dan 186 pengasuh. “Ibunya bisa kerja, anaknya juga mendapat kasih sayang. Semua bahagia,” tambah Menteri Wihaji.
TAMASYA juga menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo dan Wapres Gibran, khususnya dalam pengembangan SDM dan pengentasan kemiskinan. Misi ini sejalan dengan RPJMN 2025–2029, yang menyasar peningkatan TPAK perempuan hingga 70%, penurunan stunting ke 5%, dan peningkatan indeks kualitas keluarga hingga 80%.
Dengan program ini, pemerintah berharap hadirnya TPA bukan hanya memfasilitasi anak-anak tumbuh sehat, tetapi juga sebagai pengungkit pemerataan ekonomi dan penguatan peran perempuan dalam pembangunan.
