Non-fisik yang menentukan — begitulah Islam memandang hubungan antara pikiran dan kenyataan. Tidak ada satu pun tindakan manusia yang hadir tanpa lebih dulu terlintas dalam pikirannya. Sebaliknya, apa yang tidak pernah dipikirkan, hampir mustahil terwujud dalam kenyataan.
Apa yang kuat dan jelas dalam pikiran memiliki potensi besar untuk menjadi nyata. Sebaliknya, jika samar dan tidak diyakini, maka peluang terwujudnya sangat kecil. Banyak manusia bukan dibatasi oleh kemampuan, tetapi oleh kemauan.
Bayangkan seseorang yang terus-menerus berkata bahwa ia tak mampu, maka secara mental ia telah membangun tembok penghalang yang membuatnya benar-benar tak akan mencoba. Namun mereka yang punya kemauan, meski jalannya sulit, akan tetap melangkah.
“Ia yang memiliki kemauan punya dua kemungkinan: berhasil atau gagal. Tapi mereka yang tidak mau hanya punya satu: gagal.”
Islam menekankan bahwa perkara non-fisik lebih utama dari yang fisik. Keyakinan kepada hal ghoib menjadi fondasi dalam beragama. Kita percaya pada Allah, malaikat, surga, neraka — semua itu tidak tampak. Namun kepercayaan pada yang tak terlihat itulah yang menggerakkan tubuh kita untuk shalat, bersedekah, dan berjuang.
Ambil contoh ibadah umrah. Banyak orang yang tinggal jauh dari Makkah, harus mengumpulkan uang belasan hingga puluhan juta rupiah. Menabung bertahun-tahun, mengorbankan kenyamanan demi satu niat: memenuhi panggilan Allah. Mereka bersusah payah karena dalam pikirannya, umrah adalah kebutuhan ruhani.
Namun ironisnya, banyak yang tinggal di sekitar Ka’bah justru tak pernah berangkat umrah. Jarak hanya beberapa menit, tapi mereka tak tergerak. Bukan karena fisik yang lemah, melainkan karena pikiran yang tidak pernah memprioritaskan ibadah itu.
Apa yang terjadi?
Perkara yang berat bisa terasa ringan jika pikiran mengizinkan. Sementara perkara ringan akan terasa berat jika pikiran menolaknya. Maka dalam Islam, pikiran bukan hanya soal logika, tapi cermin dari iman.
Mengubah kenyataan hidup umat Islam dimulai dari mengubah isi pikiran mereka. Saat pikiran dipenuhi dengan iman, harapan, dan keinginan untuk taat, maka dunia pun akan berubah perlahan mengikuti arahnya.
