Jejak keimanan tertulis dengan jelas dalam Al-Qur’an, terutama dalam kaitannya dengan Baitul Maqdis. Tanah suci ini bukan hanya lokasi geografis, melainkan ruang spiritual yang menjadi saksi hidup perjuangan para nabi dan pemurnian aqidah Islam sejak masa awal wahyu.
Hubungan antara Al-Qur’an dan Baitul Maqdis tidak bisa dipisahkan. Sejumlah ayat dari berbagai surah menegaskan kedudukan istimewa tempat ini dalam sejarah kenabian. Bukan hanya dalam kisah perjuangan, tetapi juga dalam konteks tauhid, aqidah, dan perintah ibadah.
Dalam Surah Maryam, keterkaitan itu sangat jelas. Pada ayat 7, disebutkan bahwa Nabi Zakaria dan Imran adalah imam di Baitul Maqdis. Pada ayat 11, Allah menggambarkan saat Zakaria keluar dari mihrab tempatnya beribadah — yang berada di Baitul Maqdis.
“Dan dia (Zakaria) keluar kepada kaumnya dari mihrab, lalu memberi isyarat kepada mereka untuk bertasbih…”
Kemudian di ayat 16, disebutkan Maryam, yang dibesarkan dan menjadi penjaga tempat suci tersebut. Lalu di ayat 30, lahir Nabi Isa AS — sebuah peristiwa monumental yang terjadi di tanah yang diberkahi: Baitul Maqdis.
Surah lainnya, Al-Muzammil ayat 2, memerintahkan untuk bangun malam dan mendirikan shalat. Saat ayat ini turun, kiblat umat Islam masih menghadap ke Baitul Maqdis. Maka shalat malam yang dianjurkan kala itu bukan sekadar ibadah, tapi juga bentuk ikatan ruhani langsung ke tempat suci tersebut.
Dalam Al-Maidah ayat 21, Allah secara tegas menyebut tanah suci yang diwariskan kepada kaum Nabi Musa sebagai:
“Wahai kaumku! Masuklah ke Tanah Suci yang telah ditentukan Allah bagimu…”
Tanah itu tak lain adalah Baitul Maqdis, tempat yang telah disucikan dengan doa, perjuangan, dan wahyu.
Dan tentu saja, refleksi paling agung hadir dalam Surah Al-Isra ayat 1, di mana Allah menyebut peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
“Maha Suci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…”
Disebut pula bahwa Allah memberkahi “sekelilingnya,” menunjukkan bahwa Baitul Maqdis dan wilayah sekitarnya adalah tempat berkah yang mengalir dari generasi ke generasi.
Refleksi ini menegaskan: Baitul Maqdis bukan hanya tanah sejarah, tapi juga medan aqidah. Al-Qur’an tidak hanya merekam peristiwa di sana, tapi juga menanamkan nilai perjuangan, kemurnian iman, dan pentingnya menjaga tempat yang telah Allah sucikan.
