Lebih dari sekadar emosi, perhatian umat terhadap Baitul Maqdis sering kali muncul karena rasa kepedulian dan empati yang manusiawi. Namun, di balik tangisan dan kemarahan atas tragedi yang terjadi di sana, ada satu alasan yang jauh lebih mendalam — aqidah.
Baitul Maqdis bukan sekadar tempat, bukan pula sekadar simbol konflik atau sejarah. Ia adalah bagian dari identitas keimanan umat Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah banyak menyinggung kota ini dalam konteks aqidah, bukan hanya politik. Sayangnya, kita kerap memandangnya hanya dari sudut pandang rasa dan lupa bahwa yang mengikat kita pada tempat ini adalah akidah Islam yang lurus.
Aqidah Islam adalah keyakinan yang tidak boleh ditawar. Ia tegak di atas wahyu dan berakar pada ketauhidan. Dalam sejarah pewahyuan Al-Qur’an, ayat-ayat Makkiyah — yang diturunkan di Mekkah — fokus pada penguatan aqidah umat. Uniknya, hampir seluruh ayat yang menyebut atau berkaitan dengan Baitul Maqdis juga diturunkan di masa Makkiyah.
“Ayat-ayat tentang Baitul Maqdis adalah bagian dari proses pembentukan tauhid umat Islam sejak awal,” kata seorang pakar tafsir dalam kajian rutin di Timur Tengah.
Artinya, ketika umat Islam baru memulai perjalanan keimanan mereka, Allah telah menetapkan bahwa Baitul Maqdis adalah bagian tak terpisahkan dari perjuangan spiritual mereka.
Seperiga dari Al-Qur’an yang diturunkan di Mekkah secara langsung atau tidak langsung menyebutkan Baitul Maqdis, baik sebagai tempat para nabi, arah kiblat pertama, atau simbol kejayaan tauhid. Maka dari itu, memperjuangkan Baitul Maqdis bukan semata karena sedih melihat penderitaan di sana, tetapi karena ia adalah bagian dari fondasi iman seorang Muslim.
Ketika aqidah menjadi alasan utama, maka perjuangan itu tidak mudah luntur. Ia akan terus menyala dalam hati, menghidupkan semangat, dan memandu arah tindakan yang tepat.
Baitul Maqdis bukan hanya urusan kemanusiaan. Ia adalah urusan keimanan. Dan selama kita masih mengucap dua kalimat syahadat, maka kita terikat padanya dengan janji yang kuat: janji aqidah.
