Kisah perjuangan rakyat Mojokerto bukan sekadar bab dalam buku sejarah, tetapi napas panjang yang mengalir dari lorong-lorong kota hingga pegunungan sekitarnya. Sejak masa pendudukan kolonial, rakyat Mojokerto tak tinggal diam. Mereka mencatatkan jejak panjang perlawanan — dari aksi-aksi kecil yang senyap, hingga revolusi besar yang mengguncang Jawa Timur.
Awal Penjajahan: Dari Eksploitasi ke Kesadaran Nasional
Setelah ditetapkan sebagai gemeente pada tahun 1918, Mojokerto menjadi bagian dari sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Di balik tata kota yang rapi dan pembangunan infrastruktur, rakyat dipaksa tunduk pada sistem tanam paksa, kerja rodi, dan pajak tinggi.
Kondisi ini melahirkan keresahan. Di berbagai tempat, mulai tumbuh kesadaran nasional. Organisasi pergerakan seperti Sarekat Islam, Boedi Oetomo, dan Indische Partij mulai menyebarkan pengaruhnya. Tokoh-tokoh lokal mulai bicara tentang kemerdekaan, bukan sekadar perbaikan hidup.
Masa Pendudukan Jepang: Menyemai Semangat Militer Rakyat
Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Mojokerto kembali berada di bawah tekanan. Sistem romusha menyengsarakan rakyat. Namun dari sisi lain, Jepang memberi pelatihan militer kepada pemuda melalui organisasi seperti PETA dan Heiho.
Banyak pemuda Mojokerto belajar taktik tempur, disiplin militer, dan semangat bela negara. Kelak, keterampilan ini menjadi modal penting dalam perjuangan bersenjata setelah Proklamasi Kemerdekaan.
Revolusi Fisik: Mojokerto Bangkit Melawan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 langsung disambut rakyat Mojokerto dengan pengambilalihan kantor-kantor pemerintahan. Bendera Merah Putih dikibarkan di alun-alun dan gedung bekas kolonial.
Namun Belanda kembali datang melalui tentara sekutu dalam Agresi Militer I dan II. Mojokerto menjadi salah satu wilayah strategis yang diperebutkan karena letaknya di jalur logistik antara Surabaya dan Madiun.
Laskar-laskar rakyat dan eks PETA membentuk barisan gerilya. Mereka melakukan sabotase rel kereta, menyerang konvoi Belanda, hingga menggagalkan operasi militer musuh. Salah satu aksi besar adalah penyerangan malam terhadap pos Belanda di Mojokerto Kota, yang dicatat dalam laporan intelijen kolonial.
1948–1949: Gerilya, Darah, dan Kemenangan
Dalam masa agresi kedua, Mojokerto menjadi basis utama perlawanan. Hutan, desa, dan jalur Sungai Brantas dijadikan rute gerilya. Pasukan rakyat menyusup ke kota, menyebarkan selebaran kemerdekaan, dan memutus komunikasi lawan.
Meski dibombardir dan diburu, rakyat bertahan. Pejuang dari berbagai latar belakang — petani, guru, santri, bahkan ibu rumah tangga — ikut menyuplai logistik dan informasi.
“Mojokerto waktu itu tidak hanya bertempur, tapi berdiri dengan semangat bahwa negeri ini harus milik kita sendiri,”
— Catatan Pejuang Rakyat, Arsip Lokal Mojokerto.
Mojokerto Setelah Pengakuan Kedaulatan
Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada 27 Desember 1949, Mojokerto resmi berada di tangan Republik. Pemerintahan sipil kembali dibentuk. Banyak pejuang diangkat menjadi aparatur negara, guru, hingga kepala desa.
Sebagian lainnya, tetap hidup sederhana sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun nama-nama mereka kini menghiasi jalan-jalan kota: Slamet Tirtonegoro, Residen Pahlawan, Gajah Mada, dan Resimen 081 Mojokerto.
Memori yang Dijaga, Perjuangan yang Diteruskan
Kini, perlawanan itu dikenang melalui upacara Hari Pahlawan, monumen, dan kurikulum lokal. Komunitas sejarah seperti Mojokerto Tempo Doeloe dan Forum Sejarah Mojokerto terus menelusuri dan merekonstruksi kisah para pejuang agar tak hilang ditelan zaman.
Mojokerto bukan sekadar kota dengan sejarah Majapahit dan arsitektur kolonial. Ia juga kota pejuang — tempat di mana rakyat bangkit, bertahan, dan menang.
Perlawanan rakyat Mojokerto adalah kisah keberanian yang dibangun oleh semangat kolektif. Ia lahir dari penderitaan, tumbuh bersama tekad, dan mekar dalam kemenangan.
Di setiap sudut kota ini, ada cerita tentang bagaimana kemerdekaan diperjuangkan. Tidak dengan retorika, tapi dengan darah dan keyakinan bahwa negeri ini layak untuk dibela.
