Jember – Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan keseriusannya menghadapi persoalan kesehatan ibu dan anak dengan meluncurkan Gerakan 1.200 Tenaga Kesehatan dalam rangka Program Jember Cinta Kesehatan Ibu dan Anak. Peluncuran yang digelar di GOR Kaliwates, Senin (26/1/2026), menjadi simbol dimulainya kerja kolaboratif lintas sektor untuk menekan angka stunting serta Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) yang selama satu dekade terakhir masih tergolong tinggi di Jawa Timur.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 1.200 tenaga kesehatan dari seluruh wilayah Kabupaten Jember. Selain itu, acara juga dihadiri oleh Ketua DPRD Jember, jajaran kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta para camat se-Kabupaten Jember. Kehadiran berbagai unsur ini menegaskan bahwa program penurunan stunting dan peningkatan kesehatan ibu dan anak menjadi agenda prioritas daerah yang membutuhkan keterlibatan bersama.
Bupati Jember Muhamad Fawait menegaskan bahwa kondisi stunting, AKI, dan AKB di Jember sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data sepuluh tahun terakhir, Jember kerap menempati posisi satu atau dua tertinggi di Jawa Timur untuk indikator kesehatan tersebut.
“Kalau kita melihat data sepuluh tahun terakhir, angka stunting di Jember selalu tinggi, begitu juga angka kematian ibu dan bayi. Bahkan Jember sering berada di posisi satu atau dua tertinggi di Jawa Timur. Ini saya anggap sebagai semacam bencana atau krisis karena mengancam generasi penerus bangsa,” ujar Muhamad Fawait saat ditemui usai peluncuran program.
Menurutnya, salah satu persoalan utama selama ini adalah penanganan yang berjalan secara parsial. Program dan kegiatan masih dilakukan sendiri-sendiri oleh masing-masing sektor, sehingga dampaknya tidak optimal. Melalui Gerakan 1.200 Tenaga Kesehatan, seluruh elemen yang terlibat disatukan dalam satu sistem kerja terpadu.
“Hari ini kita jadikan satu. Tenaga kesehatan, penyuluh KB, kepala puskesmas, camat, pengawas sekolah, sampai kepala sekolah kita libatkan untuk bergotong royong menjadi bagian dari Satgas Pencegahan Stunting, AKI, dan AKB,” jelasnya.
Ia menambahkan, ke depan Pemerintah Kabupaten Jember juga akan melibatkan unsur TNI dan Polri agar gerakan ini berjalan lebih efektif. Keterlibatan aparat dinilai penting untuk memastikan program menjangkau seluruh lapisan masyarakat hingga ke tingkat desa dan kecamatan.
Pemkab Jember telah menetapkan target yang cukup ambisius. Pada tahun 2026 diharapkan terjadi penurunan signifikan angka stunting, AKI, dan AKB. Sementara dalam jangka menengah, yakni tahun 2029 atau 2030, Jember ditargetkan mampu masuk dalam jajaran kabupaten dengan angka stunting terendah di Provinsi Jawa Timur.
“Kalau semua elemen terlibat, anggarannya dirancang secara utuh, gerakannya terencana, dan evaluasi dilakukan rutin setiap tiga bulan, saya yakin target itu bisa tercapai,” tegas Fawait.
Ia juga menekankan bahwa keberhasilan penurunan stunting, AKI, dan AKB akan dijadikan salah satu indikator kinerja bagi OPD, camat, serta kepala puskesmas. Dengan demikian, setiap pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab yang jelas dan terukur.
Melalui peluncuran Gerakan 1.200 Tenaga Kesehatan ini, Pemerintah Kabupaten Jember berharap terbangunnya sistem pendampingan kesehatan ibu dan anak yang lebih terintegrasi, berkelanjutan, serta memberikan dampak nyata. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan menjadi fondasi kuat bagi masa depan generasi Jember.
