Mojokerto – Di sebuah desa terpencil di pedalaman Jawa Timur, sebuah terobosan ekonomi tengah berlangsung. Berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya harga jual hasil panen pisang di kalangan petani, sebuah program pemberdayaan ekonomi berbasis komoditas pisang Mas Kirana kini menjadi angin segar bagi masyarakat. Program ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga membuka akses pendidikan, air bersih, dan pelatihan keterampilan bagi warga.
Pondok Pesantren Segoro Agung yang berlokasi di Jalan Syeh Jumadil Kubro, Desa Sentonorejo, Trowulan, Mojokerto, tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga penggerak ekonomi lokal melalui pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di bawah Pembina Mayjen (Pur) Gautama Wiranegara pondok ini terus menunjukkan eksistennya dan menjadi rahmatan lil alamin.
Diprakarsai oleh KH. Bimo Agus Sunarno, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Segoro Agung, program ini melibatkan tiga kabupaten utama, yaitu Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Melalui kolaborasi dengan Lembaga Zakat Nasional Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) serta CV Mahardika Putra Indonesia, inisiatif ini telah berhasil mengubah paradigma pertanian tradisional menjadi agribisnis yang berkelanjutan.

Mengubah Harga Pisang, Mengubah Hidup Petani
Sebelumnya, para petani di tiga kabupaten tersebut hanya mampu menjual hasil panen pisang mereka dengan harga Rp6.000 hingga Rp10.000 per tandan. Namun, melalui pendekatan baru yang menggunakan sistem penimbangan, harga jual meningkat menjadi rata-rata Rp45.000 per tandan. Kenaikan harga ini memberikan dampak langsung terhadap pendapatan lebih dari 1.047 kepala keluarga yang tersebar di tujuh kecamatan:
- Kabupaten Bondowoso: Desa Pedati (250 kepala keluarga).
- Kabupaten Banyuwangi: Kecamatan Sempu (187 kepala keluarga), Kalibaru (107 kepala keluarga), dan Purwoharjo (54 kepala keluarga).
- Kabupaten Jember: Kecamatan Tanggul (215 kepala keluarga), Desa Curah Takir (138 kepala keluarga), dan Kecamatan Sukorambi (96 kepala keluarga).
“Sekarang petani bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Kami juga memastikan bahwa semua hasil panen pisang dapat diolah, baik untuk pasar buah segar maupun produk turunan seperti sale pisang atau kurma jawa,” ujar Kyai Bimo.
Pisang Mas Kirana: Potensi Ekonomi dan Produk Turunan
Pisang Mas Kirana, varietas unggulan yang hanya dapat tumbuh di daerah dengan suhu dingin, memiliki permintaan tinggi di pasar Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang. CV Mahardika Putra Indonesia, yang telah berpengalaman dalam pemasaran komoditas ini sejak tahun 2017, kini mampu mengirimkan 2-4 ton pisang Mas Kirana per minggu. Meski demikian, kebutuhan pasar sebenarnya mencapai 8-12 ton per minggu, menunjukkan potensi besar yang masih bisa digarap.
Selain sebagai buah segar, pisang Mas Kirana juga diolah menjadi sale pisang (kurma jawa), yang diminati konsumen karena rasanya yang manis dan legit tanpa tambahan gula. Menjelang Idulfitri, permintaan produk ini bahkan bisa mencapai 3 ton. Dengan pengolahan maksimal, tidak ada bagian pisang yang terbuang.
Program Kolaborasi: Budidaya dan Pendidikan
Sebagai bagian dari program pemberdayaan ekonomi, Pondok Pesantren Segoro Agung juga memfasilitasi pendidikan gratis bagi anak-anak petani yang kurang mampu. “Kami ingin memastikan anak-anak di daerah terpencil mendapatkan pendidikan layak. Antusiasme masyarakat sangat tinggi karena banyak anak putus sekolah akibat keterbatasan ekonomi,” tambah Kyai Bimo.
Pada Januari 2025, program budidaya pisang Mas Kirana akan diluncurkan di dua lokasi baru:
- Krajan, Klungkung, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember (Koordinat: -8.100796, 113.683400).
- Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember (Koordinat: -8.0958699, 113.586642).
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada ketersediaan sumber air, kesuburan tanah, dan komitmen masyarakat setempat dalam meningkatkan pendapatan keluarga.
Tahapan Budidaya: Teknologi untuk Efisiensi
Proses budidaya pisang Mas Kirana dilakukan dengan pendekatan agribisnis modern. Tahapan meliputi:
- Persiapan Lahan: Pengolahan tanah dilakukan dengan pupuk kandang dan agensia hayati untuk mencegah penyakit seperti fusarium.
- Penanaman Bibit: Bibit yang digunakan adalah jenis dongkelan berumur 3-4 bulan.
- Teknologi Budidaya: Pemupukan, pemangkasan, dan pengendalian hama dilakukan secara terorganisir oleh kelompok tani.
- Panen dan Pengolahan: Buah diproses pasca panen untuk memastikan mutu sesuai permintaan pasar.
Membangun Komunitas Tangguh
Dalam jangka panjang, program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga membangun komunitas tangguh. Masyarakat diajak untuk berkomitmen terhadap keberlanjutan program melalui pelatihan dan pendampingan intensif.
“Kami percaya bahwa pemberdayaan ekonomi harus dibarengi dengan pendidikan dan pembangunan infrastruktur dasar seperti air bersih,” jelas Kyai Bimo.

Hasil Uji Coba: Optimisme Masa Depan
Uji coba budidaya pisang Mas Kirana di Desa Pedati, Bondowoso, memberikan hasil yang menjanjikan. Dengan tingkat serangan penyakit layu fusarium kurang dari 10%, serta berat rata-rata buah yang memenuhi kategori Grade A (di atas 1,6 kg), program ini dianggap sangat layak untuk diperluas.
Keberhasilan ini juga menjadi bukti bahwa potensi agribisnis di daerah terpencil dapat digarap secara maksimal dengan kolaborasi berbagai pihak.
Dukungan untuk Masa Depan
Melalui program ini, Pondok Pesantren Segoro Agung dan mitra-mitranya berharap dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan target peningkatan hasil panen hingga 12 ton per minggu, program ini akan menjadi model pemberdayaan ekonomi pedesaan yang dapat diadaptasi di wilayah lain.
Semoga keberlanjutan program ini membawa berkah bagi petani dan generasi mendatang. Alhamdulillah, melalui kerja keras dan doa, program ini telah membuka jalan bagi masa depan yang lebih cerah.
