Suasana hati berpengaruh besar terhadap kekuatan hafalan Al-Qur’an. Dalam dunia tahfidz, salah satu pengganggu utama datang dari kebiasaan yang dianggap sepele: mendengarkan musik setiap hari. Jurus 23 hadir sebagai solusi menjaga kekhusyukan dengan mengganti musik menjadi murottal.
Di era yang penuh distraksi ini, musik menjadi teman setia dalam perjalanan, belajar, bahkan istirahat. Tapi bagi para penghafal Al-Qur’an, musik bisa menjadi penghalang. Irama musik yang kuat dan melekat bisa menyingkirkan ayat-ayat dari ingatan, karena otak manusia lebih mudah menangkap dan menyimpan melodi yang berulang.
“Musik mendominasi ruang pikir, sedangkan Al-Qur’an butuh ketenangan batin agar mudah melekat,” ungkap seorang ustaz pengampu tahfidz di sebuah pesantren tahfidz Jawa Tengah. Ia menjelaskan bahwa menjauh dari musik bukan berarti fanatik, tapi bentuk penjagaan spiritual.
Sebaliknya, murottal justru membawa manfaat besar. Mendengarkan lantunan Al-Qur’an secara tartil bisa menenangkan jiwa, menata irama bacaan, dan memperkuat hafalan tanpa harus duduk dan menghafal secara formal.
Murottal sangat efektif jika dijadikan rutinitas. Dengarkan saat sebelum memulai hafalan sebagai pemanasan, di sela istirahat, di perjalanan, atau menjelang tidur. Fokuslah pada bagian hafalan yang paling lemah agar perlahan semakin kuat.
Kebiasaan ini sangat ringan tapi berdampak besar. Sedikit waktu namun rutin akan jauh lebih berpengaruh daripada sesi hafalan panjang yang tidak berkelanjutan.
Langkah kecil ini dimulai dengan mengganti playlist musik harian dengan murottal dari qari favorit. Perlahan, telinga terbiasa, hati menjadi lebih peka, dan hafalan pun makin kuat.
Karena sejatinya, apa yang sering kita dengar akan membentuk isi pikiran dan hati. Jika Al-Qur’an yang sering diputar, maka ketenangan dan keberkahan akan lebih mudah hadir dalam keseharian.
