Dua bayang sejarah—Tarunajaya dan Diponegoro—sering dipuja sebagai simbol perlawanan. Namun di balik heroisme itu, Tan Malaka dalam Aksi Massa menunjukkan satu hal menyakitkan: dua tokoh besar ini gagal menang bukan karena kurang gagah, tapi karena tak punya alat untuk mengubah zaman.
Tarunajaya muncul saat Mataram kehilangan arah. Ia menggugah rakyat, tapi cepat dijepit siasat: Belanda datang membawa senjata, membeli sekutu, dan mengadu kekuatan lokal. Tarunajaya dihancurkan bukan di medan perang saja, tapi di meja persekongkolan. “Menang” akhirnya bukan rakyat, tapi istana yang makin tergantung pada VOC.
Diponegoro seratus tahun kemudian, melawan sistem kolonial yang menghimpit dari segala sisi. Jalan Raya Pos karya Daendels melancarkan arus modal dan pajak, tapi meremukkan tenaga rakyat. Diponegoro bangkit dengan kekuatan moral dan agama, namun gagal menghadirkan program ekonomi-politik yang bisa membentuk tatanan baru.
“Kalau Diponegoro lahir di Eropa,” tulis Tan Malaka, “mungkin ia jadi Cromwell.” Tapi di Jawa, ia malah mewarisi istana tua yang sudah kehilangan daya. Koalisinya religius, bukan kebangsaan. Programnya emosional, bukan struktural.
Tan Malaka menyimpulkan: kemenangan memerlukan lebih dari sekadar niat baik dan keberanian. Ia butuh kelas sosial baru—terdidik, produktif, dan terorganisir. Ia butuh jalan logistik, sekolah kejuruan, koperasi, dan serikat. Bukan sekadar bendera atau darah.
Apa artinya bagi hari ini? Banyak. Kita masih melihat figur besar tanpa program; proyek mercusuar tanpa fondasi; euforia politik tanpa daya tahan. Padahal, seperti ditulis Tan Malaka, politik adalah soal produksi dan distribusi. Siapa yang pegang logistik, data, dan konektivitas, dialah yang berkuasa.
Karena itu, “aksi massa” tak boleh hanya jadi tontonan lima tahunan. Ia harus menjelma dalam kebijakan: pendidikan vokasi, penguatan UMKM, dermaga kecil, dan platform kebijakan lintas identitas. Bukan sekadar orasi, tapi logistik rakyat.
Sejarah Tarunajaya dan Diponegoro mengingatkan kita: tanpa institusi dan kelas produktif, perlawanan hanya jadi puisi yang tak berubah jadi nasi. Kini saatnya membangun kemenangan yang berakar panjang, bukan hanya seumur jagung.
