Jombang – Asap mengepul dari ban yang terbakar, petasan meledak memecah langit sore, dan suara mahasiswa memekakkan jalanan di depan gedung megah DPRD Jombang. Suasana pada Sabtu (29/3/2025) itu seperti teatrikal perlawanan, simbol kegelisahan anak muda yang merasa suaranya tak lagi didengar di meja kekuasaan.
Mereka datang bukan hanya dengan poster dan spanduk, tapi juga dengan kegelisahan yang membara. Sekitar pukul 17.00 WIB, puluhan mahasiswa dari Aliansi Cipayung Plus bersama komunitas pemuda mulai memenuhi Jalan KH Wahid Hasyim. Spanduk bertuliskan “Tendang TNI ke Barak” dibentangkan. Bukan tanpa alasan, itu adalah penolakan terhadap revisi UU TNI yang dianggap mengancam ranah sipil dan demokrasi.
“Kami ingin militer kembali pada fungsi dasarnya, bukan merambah ke ranah sipil,” ujar Muhammad Hidayatulloh, koordinator lapangan aksi, dengan suara lantang saat ditemui di tengah kerumunan. Ia menyebutkan enam tuntutan yang mereka ajukan, mulai dari penolakan terhadap TNI aktif menjabat posisi sipil, hingga kekhawatiran soal perluasan kewenangan TNI di luar perang.
Ironisnya, di tengah orasi dan api yang menyala, hanya dua anggota dewan yang hadir menemui massa. Gedung yang mestinya menjadi tempat aspirasi berlabuh, justru terasa dingin dan sepi. Naskah tuntutan yang disiapkan pun urung ditandatangani. Para mahasiswa kecewa, tapi tetap pulang tanpa kericuhan.
Aparat kepolisian yang dikerahkan cukup banyak, dipimpin langsung oleh Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan. Namun, tak ada bentrokan. Suasana dijaga tetap kondusif meski letusan petasan terdengar sebanyak tiga kali. Mahasiswa menggelar aksi dengan tertib, menjaga marwah perjuangan mereka.
“Sikap kami damai, tapi tegas. Kalau perlu, kami akan datang lagi dengan massa yang lebih besar,” kata seorang mahasiswa sebelum membubarkan diri.
Hingga pukul 19.00 WIB, satu per satu mereka meninggalkan halaman DPRD. Tapi suara dan jejak mereka belum tentu benar-benar hilang. Dalam diam, mereka telah menanam benih perlawanan yang bisa tumbuh kapan saja.
Aksi ini bukan sekadar protes biasa. Ini adalah refleksi kegelisahan generasi muda yang meyakini bahwa demokrasi tak boleh dikawal oleh bayangan seragam militer.
