Wabah kebodohan kolektif bisa berakar dari satu hal: cara berpikir yang salah. Tan Malaka dalam karyanya Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) menggugat keras logika mistika yang mengakar dalam cara berpikir bangsa Indonesia. Alih-alih menyelesaikan masalah secara rasional, kita terbiasa menutupi ketidaktahuan dengan mitos dan asumsi tanpa dasar.
Dalam halaman 295-296, Tan Malaka menegaskan: solusi nyata hanya lahir dari pembacaan realitas yang akurat. Kita tidak bisa membangun masyarakat adil hanya dengan harapan kosong atau larangan budaya yang tidak bisa diuji.
“Kalau tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Jangan mengarang jawaban dengan logika mistika,” tegas Tan Malaka, menolak sikap intelektual yang malas berpikir dan antikritik.
Logika mistika, dalam pengertian Tan Malaka, adalah kebiasaan menjawab pertanyaan konkret dengan penjelasan kabur, penuh keyakinan tapi tanpa bukti. Inilah akar dari stagnasi intelektual, yang menjadikan kita lebih percaya pada takhayul ketimbang metode ilmiah.
Sebaliknya, madilog adalah jalan keluar. Dengan pendekatan materialisme dialektika, Tan Malaka menawarkan kerangka berpikir yang berpijak pada fakta, menyusun sebab-akibat secara rasional, dan menolak asumsi yang tak teruji. Dalam kerangka ini, tidak ada kebenaran tanpa pembuktian.
Budaya pun tidak dibiarkan lolos dari kritik. Tan Malaka membedakan aspek budaya menjadi dua: aspek kebenaran dan aspek kebaikan. Aspek kebenaran, seperti fakta alam (contoh: gunung meletus), tidak bisa dijawab dengan mitos. Sedangkan aspek kebaikan, seperti larangan adat, tidak bisa dijadikan standar kebenaran ilmiah.
Ia mengingatkan bahwa budaya yang tak dikritik akan membusuk. Dalam halaman 568, ia menyindir cara pikir lama yang menjadikan hantu dan dewa sebagai dasar ilmu. “Kini, tidak ada intelektual sejati yang masih menggantungkan pemahaman pada kekuatan supranatural,” tulisnya.
Melalui Madilog, Tan Malaka mengajak kita merevolusi cara berpikir: berani menolak mitos, membongkar dogma, dan menyusun strategi perubahan berbasis ilmu pengetahuan. Sebab tanpa keberanian intelektual, keadilan hanya jadi utopia yang terus ditunda.
