Kutim – Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kembali menorehkan prestasi di bidang transmigrasi. Kabupaten ini berhasil meraih penghargaan sebagai kawasan transmigrasi mandiri dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).
Penghargaan ini diberikan atas upaya nyata Kutim dalam mengelola kawasan transmigrasi menuju status mandiri. Status mandiri merupakan status tertinggi yang diberikan kepada kawasan transmigrasi yang telah memenuhi kriteria tertentu, di antaranya: memiliki daya saing ekonomi yang tinggi, memiliki ketahanan sosial yang kuat, memiliki kualitas lingkungan yang baik dan memiliki tata kelola pemerintahan yang baik
Prestasi ini menempatkan Kutim sebagai pelopor pembangunan di sektor transmigrasi. Hal ini tidak lepas dari dukungan dan kerja keras dari semua pihak, baik pemerintah daerah, masyarakat, maupun pihak swasta.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung program transmigrasi di Kutim. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan transmigrasi,” kata Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman.
Pemerintah daerah kini berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan kawasan transmigrasi. Hal ini untuk meraih penghargaan transmigrasi dengan status tertinggi yang menandakan daya saing optimal.
Kepala Bidang Transmigrasi Disnakertrans Kutim Isriza Prihatin menjelaskan bahwa fokus utama pihaknya adalah pada pengembangan infrastruktur di kawasan transmigrasi. Dari 49 desa transmigrasi yang ada, baru 7 desa yang telah mencapai status mandiri, sementara yang lain masih dalam proses pembangunan.
“Kami berupaya menjadikan semua desa transmigrasi mandiri, dan infrastruktur menjadi salah satu kunci utama. Kerja sama erat dengan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman (Perkim) menjadi fondasi keberhasilan pembangunan ini,” ungkap Isriza.
Isriza menegaskan bahwa koordinasi yang baik antarinstansi, khususnya dengan Dinas Perkim menjadi kunci sukses dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan infrastruktur secara efisien dan merata.
“Program ini hasil dari Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat. Kami optimis dapat mengatasi kendala yang mungkin muncul dan memastikan program ini memberikan dampak positif yang nyata,” tambahnya.
Isriza berharap langkah ini tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat transmigrant. Selain itu, memperkuat citra Kabupaten Kutai Timur secara keseluruhan.
“Kami ingin Kutim menjadi tujuan transmigrasi yang ideal. Kami ingin masyarakat transmigrant bisa hidup sejahtera dan mandiri di sini,” kata Isriza.
