Mojokerto – “Menekan stunting adalah jihad kemanusiaan.” Kalimat penuh makna ini disampaikan Kiai Bimo Agus Sunarno, pendiri dan pembina Pondok Pesantren Segoro Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, sebagai bentuk dukungan terhadap program makan bergizi gratis dari Presiden Prabowo Subianto. Ia menilai program tersebut sebagai langkah nyata dan strategis dalam menjawab tantangan besar bangsa, khususnya dalam meningkatkan kualitas generasi muda.
Kiai Bimo menegaskan bahwa stunting bukan sekadar persoalan kesehatan, tetapi juga menyangkut masa depan pendidikan dan sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, program makan gratis sangat penting diterapkan sejak pendidikan usia dini seperti TK hingga tingkat SMA untuk memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang cukup dan seimbang.
“Banyak santri dan siswa di desa yang berangkat sekolah dengan perut kosong. Ini bukan hanya soal pendidikan, tapi soal masa depan bangsa,” ujarnya kepada media ini, Senin (5/5/2025).
Sebagai bentuk konkret dukungan, Kiai Bimo juga menyampaikan progres pembangunan dapur Program Pemberdayaan Gizi (SPPG) yang berlokasi di kawasan Monumen Patung Garuda, tepat di depan Pendopo Agung Trowulan, Mojokerto. Saat ini, pembangunan tersebut telah mencapai 80 persen dan direncanakan rampung pada akhir Mei 2025.
Ia juga menambahkan pentingnya pelibatan Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai pengarah dan pengawas kebijakan, agar program ini berjalan terarah dan berbasis kebutuhan daerah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat sipil sangat diperlukan untuk menjamin pelaksanaan program tidak hanya efektif, tetapi juga bebas dari penyimpangan.
“Pendekatan struktural saja tidak cukup, harus ada keterlibatan aktif lembaga pendidikan dan pesantren dalam memastikan gizi anak-anak terpenuhi,” tegasnya.
Program makan bergizi gratis yang dijalankan pemerintahan Prabowo juga disebutnya mampu meningkatkan konsentrasi belajar siswa dan capaian akademik mereka. “Jika anak-anak kita sehat dan kuat, maka pendidikan bisa berjalan lebih maksimal,” tambah Kiai Bimo.
Sementara itu, pembina dan pengawas Yayasan Segoro Agung, Mayjen Purnawirawan Gautama Wiranegara, turut memberi perhatian serius terhadap program tersebut. Ia mendukung penuh kebijakan negara yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat melalui jalur pendidikan dan ketahanan pangan.
Menutup pernyataannya, Kiai Bimo mengajak seluruh elemen pendidikan Islam dan masyarakat luas untuk mengawal program makan gratis ini agar benar-benar menyasar yang membutuhkan. “Ini momentum besar, dan pesantren harus menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Dengan dukungan moral dari para tokoh agama dan pengasuh pesantren, pemerintah pusat diyakini memiliki dasar sosial yang kuat dalam menjalankan agenda prioritas pembangunan manusia dan ketahanan gizi nasional.
