Jember – Setelah lama terdiam seperti sabuk yang tergantung di dinding dojo, Kejuaraan Kabupaten Karate Forki Jember 2026 akhirnya kembali digelar. Ajang ini menandai kebangkitan pembinaan karate di Kabupaten Jember setelah lima tahun vakum, sekaligus menjadi ruang adu teknik dan mental bagi ratusan atlet dari berbagai kelompok usia.
Kejurkab Karate Forki Jember 2026 diselenggarakan oleh Kabupaten Jember dan berlangsung di Gedung Aula SMP Negeri 7 Jember pada Minggu (08/02/2026). Sebanyak sekitar 600 atlet dari delapan perguruan karate yang terdaftar resmi di bawah naungan Forki Jember ambil bagian dalam kejuaraan ini. Para peserta bertanding di 89 kelas pertandingan yang terbagi dalam kelas Open (prestasi) dan kelas Festival (pembinaan).
Sejumlah pejabat dan pemangku kepentingan olahraga turut hadir dalam pembukaan kegiatan, di antaranya Wakil Ketua Umum I Rendra Wirawan, perwakilan Disporabudpar Jember Endi Eko Prasetiyo, serta Kepala SMP Negeri 7 Jember Elly Yanuarsih. Kehadiran mereka menjadi sinyal dukungan terhadap kebangkitan karate di daerah.
“Kejurkab Forki ini baru bisa kami laksanakan kembali setelah lima tahun vakum. Di Jember ada delapan perguruan karate yang terdaftar di bawah Forki dan seluruhnya ikut serta,” ujar Ketua Pengkab Forki Jember, Panca Hidayat, di sela-sela pertandingan.
Ia menjelaskan bahwa dari total peserta, sekitar 200 atlet mengikuti kelas Open sebagai jalur prestasi, sementara kurang lebih 400 atlet lainnya berlaga di kelas Festival. Menurutnya, dominasi peserta di kelas Festival menunjukkan bahwa pembinaan karate di Jember masih berada pada fase penguatan dasar.
“Festival ini bertujuan untuk uji tampil atlet, membangun kepercayaan diri, dan melatih teknik tanpa tekanan prestasi. Sedangkan kelas Open merupakan jalur prestasi yang menjadi dasar seleksi menuju Kejurprov, Popda, hingga Porprov,” jelasnya.
Perbedaan mendasar antara kelas Open dan Festival juga terlihat pada sistem penghargaan. Pada kelas Festival, seluruh atlet tetap memperoleh medali sebagai bentuk apresiasi dan pembentukan mental bertanding. Sementara di kelas Open, medali hanya diberikan kepada atlet yang berhasil meraih peringkat juara.
Kejurkab ini diikuti atlet lintas usia, mulai dari usia dini sekitar empat tahun, kategori pra-pemula, remaja, hingga senior dan mahasiswa. Bahkan, beberapa atlet yang sebelumnya tampil di ajang Porprov kembali turun gelanggang untuk mengasah kemampuan dan menjaga konsistensi prestasi.
Untuk menjaga keberlanjutan pembinaan, Forki Jember juga menurunkan tim talent spotting yang bertugas memantau atlet potensial, termasuk mereka yang kalah dari lawan yang lebih berpengalaman.
“Jika ada atlet level dua atau tiga yang kalah dari atlet Porprov tetapi memiliki potensi teknik dan mental, akan kami tarik ke lapis kedua Forki,” tambah Panca.
Ia menegaskan bahwa pelaksanaan Kejurkab merupakan kewajiban setiap cabang olahraga sebagai proses seleksi awal di tingkat kabupaten. Hasil dari kejuaraan ini akan menjadi bahan evaluasi utama dalam menyusun program pembinaan lanjutan.
“Hasil Kejurkab akan kami evaluasi. Bahkan jika nanti digelar Bupati Cup, Forki Jember siap mengadakan kejuaraan Open tingkat Jawa Timur pada akhir tahun,” pungkasnya.
Dengan terselenggaranya Kejurkab Karate Forki Jember 2026, diharapkan ajang ini menjadi titik awal kebangkitan prestasi karate Jember, sekaligus melahirkan atlet-atlet potensial yang mampu bersaing di level regional hingga nasional.
