Bondowoso — Cuaca ekstrem kembali melanda Bondowoso. Sebanyak 82 rumah warga di dua kecamatan porak poranda setelah diterjang angin kencang disertai hujan deras yang terjadi pada Kamis (4/12) sekitar pukul 13.30 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso mencatat kerusakan mulai dari kategori ringan, sedang, hingga berat.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, menyebutkan bahwa kerusakan tersebar di tujuh desa. Di Kecamatan Jambesari, angin kencang meluluhlantakkan rumah-rumah warga di Desa Jambesari, Sumberjeruk, Pengarang, Tegalpasir, dan Pocanganum. Sementara di Kecamatan Pujer, Desa Mengok dan Sukorkerto juga ikut terdampak.
“Hujan berintensitas tinggi yang disertai angin kencang merusak puluhan rumah warga dan menyebabkan sejumlah pohon tumbang,” ujarnya saat dikonfirmasi Kamis malam.
Atap Rumah Terhempas, Sejumlah Bangunan Rata dengan Tanah
Mayoritas kerusakan terjadi pada bagian atap rumah yang tersapu angin. Beberapa rumah lainnya mengalami kerusakan lebih parah setelah tertimpa pohon tumbang, membuat kondisi bangunan rapuh dan tidak layak huni. Di beberapa titik, pohon berukuran besar juga roboh hingga menutup akses jalan desa.
Tim BPBD Lakukan Asesmen dan Evakuasi Material
Begitu menerima laporan warga, petugas BPBD Bondowoso langsung diterjunkan ke lokasi terdampak. Mereka melakukan asesmen cepat, sekaligus mengevakuasi pohon tumbang yang menimpa rumah maupun menghalangi jalur transportasi.
“Petugas telah mengevakuasi sebagian besar pohon tumbang. Namun untuk beberapa titik, penanganannya belum dapat dilakukan karena kondisi yang tidak memungkinkan serta membahayakan tim gabungan,” kata Kristianto.
Upaya Pemulihan Terus Berjalan
Proses penanganan darurat kini berfokus pada pembersihan material dan pembukaan akses jalan. BPBD juga terus berkoordinasi dengan perangkat desa dan pihak terkait untuk memastikan bantuan bagi warga terdampak, termasuk kemungkinan penyediaan tempat tinggal sementara bagi penghuni rumah yang rusak berat.
Situasi di lapangan hingga kini terpantau terkendali, sementara warga terus bergotong royong membantu proses pemulihan.
