Tasikmalaya – Inovasi eduwisata diprakarsai warga-warga Cisayong dengan dukungan kepala desanya. Kolecer atau baling-baling bambu yang merupakan permainan popular di tanah sunda. Beberapa orang di Kampung Wangun membuat beberapa kolecer ditempatkan dalam satu tempat terbuka. Lalu kampung inilah disebut ‘kampung kolecer’.
Kepala Desa Cisayong Yudi Cahyudin mengatakan, saat ini sedang dibuat Kampung Kolecer dengan dukungan masyarakat yang sangat luar biasa dalam menyambut Hari Kemerdekaan RI ke-75.
“Kolecer ini memiliki filosofi yang mana di dalam sebuah putarannya mengandung makna bahwa kita sebagai manusia dituntut agar otak kita memikirkan sebuah kemajuan serta perkembangan desa yang lebih baik,” ujarnya, Rabu (15/7/2020).
Masih menurut Yudi, filosofi kolecer itu selain kerja sama dan gotong royong, juga menjadi sebuah pelajaran untuk masyarakat agar berfikir bagaimana agar desa dapat lebih berkembang, lebih maju serta lebih mandiri.
Yudi mengajak, bagi seluruh warga desa di mana pun berada yang ingin bernostalgia dengan budaya, permainan atau menikmati wisata bernuansa sunda serta ngamumule permainan sunda yang sudah tergerus zaman bisa datang langsung saja ke Kampung Kolecer yang berada di Kampung Wangun Desa Cisayong.
Tim Kreator Kampung Kolecer Yaya Sonjaya menjelaskan, dibuatnya kampung itu sebagai wujud kepedulian pemerintah desa serta para kasepuhan terhadap permainan tradisional sunda yang ada sejak zaman nenek moyang sekaligus mengenalkan kepada anak zaman sekarang bagaimana mengajarkan cara pembuatannya.
“Seiring dengan perkembangan zaman seperti sekarang ini yang identik serba canggih, membuat sebagian orang lupa akan tradisi atau permainan tradisional tersebut. Karena pada zaman sekarang, segala sesuatu atau permainan sudah canggih atau berupa barang elektronik,” katanya.
Kampung ini sengaja dibuat agar anak-anak zaman sekarang mengetahui permainan tradisional yang mulai terlupakan adanya gadget.
